Sekretaris Badan Bahasa Sapa Komunitas Literasi di Lombok Tengah: Membangun Kebersamaan untuk Gerakan Literasi

Lombok Tengah, 20 April 2026—Para pegiat literasi menjadi aset berharga yang memberikan kontribusi terhadap gerakan literasi nasional. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Ganjar Harimansyah, saat menyapa para pegiat literasi di Janapria, Kabupaten Lombok Tengah. Ia mengutarakan bahwa gerakan literasi harus bersifat berkesinambungan dan terus-menerus. Pegiat literasi menjadi motor penggerak yang menghidupkan minat baca masyarakat yang mungkin belum dapat terjangkau oleh pemerintah.

Di hadapan para pegiat literasi, Ganjar menyuarakan dukungan penuh terhadap aktivitas para pegiat literasi. Menurutnya, hal yang sangat vital adalah komitmen dan dukungan dari berbagai pihak untuk saling berkolaborasi bersama. Kegiatan yang diinisiasi oleh Rumah Baca Muhsinin Al Madani dihadiri oleh puluhan perwakilan pegiat literasi se-Kabupaten Lombok Tengah. Tidak hanya itu, momen penting partisipasi anak-anak pada kegiatan ini menarik perhatian Sekretaris Badan Bahasa. Didampingi Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, sekitar 30 anak-anak asuhan Rumah Baca Muhsinin mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh Yuyun Setiawati, salah seorang pegiat literasi. Kak Yuyun, sapaan akrabnya, membacakan dongeng tentang "Singa dan Gajah". Dongeng tersebut berisi pesan moral permohonan maaf seekor singa ke gajah atas kesalahan yang telah diperbuatnya sebagai kawan. Ia juga membacakan buku berjudul "Selamat Tidur, Kola!" yang diikuti keaktifan dan minat dari adik-adik yang hadir.

Sesi Mendengar Dongeng ini menarik perhatian Sekretaris Badan Bahasa. Ganjar turut menyapa adik-adik yang antusias mendengarkan dongeng dari Kak Yuyun. Ia juga berkesempatan menyapa Dimas, salah seorang peserta yang mengikuti kegiatan ini. Interaksi yang terbangun akrab membahas seputar aktivitas adik-adik dan mengulas cerita yang dibacakan oleh Kak Yuyun. "Adik-adik, kalau belajar itu jangan takut salah. Kalau takut salah bisa segera diperbaiki, ya," pesannya saat berinteraksi dengan adik-adik.

Ia berbagi pengalaman bahwa kelas V SD pernah ke Singapura karena rajin membaca. Hal tersebut bermula dari senang membaca dan sering mengikuti lomba, mulai dari lomba mendongeng, menulis cerita, dan lomba sejenisnya. Di rumahnya banyak terpajang buku di rak buku miliknya. Menurutnya, penulis seperti Kak Helvy Tiana Rosa dan Kak Asma Nadia jago menulis karena suka membaca. Jadi, adik-adik harus senang membaca dan menulis.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi pembinaan dan pendampingan para pegiat komunitas literasi oleh Sekretaris Badan Bahasa. Ketua Rumah Baca Muhsinin Al Madani, Muhsan Ependi, menuturkan bahwa pendampingan luar biasa dari Balai Bahasa Provinsi NTB dalam menggerakkan komunitas literasi. Penguatan dilanjutkan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa. Berdasarkan penuturannya, literasi di NTB, khususnya di Lombok Tengah sudah maju. Keterlibatan pegiat literasi cukup tinggi. "Saya mohon masukan terkait bantuan dan hal-hal yang telah dilakukan oleh pimpinan sebelumnya. Literasi itu memang pintu jendela kita mengetahui dunia. Kami juga nanti akan berkoordinasi dengan komunitas literasi lainnya," imbuh Arie saat menyapa para pegiat literasi.

Sekretaris Badan Bahasa menguatkan peran para pegiat literasi. Kesempatan pertemuan ini menjadi ajang untuk memperkuat kolaborasi para pegiat literasi. Ia menyatakan kebanggaan dan apresiasi atas kerja keras para pegiat literasi dalam menghidupkan literasi, khususnya di NTB. "Saya selalu salut dengan para pegiat literasi di seluruh Indonesia. Ketika saya masih menjadi peneliti, saya selalu mampir bertemu dan berdiskusi dengan para pegiat literasi. Sejatinya, komunitas itu menggiatkan aktivitas senang membaca bagi adik-adik. Kesempatan hal-hal formal yang tidak dapat terjangkau, tetapi dengan komunitas pegiat literasi terjangkau. Hal ini yang ingin kami dorong dan Badan Bahasa sangat mendorong komunitas literasi," jelas Ganjar.

Ia mengajak para pegiat literasi untuk mengikuti sayembara penulisan cerita anak. Ia juga menginformasikan laman budi.kemendikdasmen.go.id tempat gudang buku cerita yang dapat diakses luas oleh masyarakat. Ia menginisiasi adanya apresiasi untuk sastrawan dan komunitas pelestari bahasa daerah. "Jika teman-teman membutuhkan pelatihan menulis, jangan ragu-ragu untuk menghubungi Balai Bahasa Provinsi NTB. Silakan, datang berkunjung membangun diskusi. Balai Bahasa Provinsi NTB menjadi rumah besar bagi para pegiat literasi di NTB," pesannya di akhir kegiatan.

Berbicara tentang literasi tidak lepas dari isu-isu yang ada di dalamnya. Di akhir sesi, Nurcholis Muslim menjelaskan bahwa ada dua isu yang lahir dalam perjuangan menggerakkan literasi nasional untuk kemajuan pendidikan di NTB. Isu pertama adalah minat baca dan isu yang kedua adalah kurangnya bahan bacaan literasi. Kedua isu tersebut menjadi bahan kebijakan yang terus menjadi tugas Balai Bahasa Provinsi NTB.

Sesi diskusi dengan para pegiat literasi mengalir membahas isu-isu literal dan tantangan yang dihadapi oleh para pegiat literasi. Keberagaman isu dan tantangan yang dihadapi mulai dari komitmen, dukungan keluarga, finansial operasional pegiat literasi, pengembangan kompetensi, dan masalah lainnya. Akan tetapi, dari sekian banyak tantangan yang dihadapi, hal-hal positif juga mengalir dari kesaksian para pegiat literasi. Kegiatan literasi merupakan sumbangsih untuk memerdekakan pikiran dan membaktikan diri untuk masyarakat dan negara. Bahkan, para pegiat literasi menuturkan bahwa aktivitas literasi merupakan panggilan jiwa untuk menjadi manusia bermanfaat bagi sesama. Adapun pertemuan ini menjadi momentum untuk saling menguatkan dukungan dan komitmen kolaborasi bersama semua pihak demi kemajuan literasi di NTB.