Ragam Pembelajaran Materi Bahasa Sasak: Membuka Ruang Ekspresi bagi Guru
Mataram, 24 April 2026—Konsistensi pembelajaran bahasa daerah Sasak melalui Bimbingan Teknis Pelatihan Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah telah memasuki hari terakhir. Ketujuh materi pembelajaran revitalisasi bahasa Sasak meliputi membaca puisi, tembang, pidato, komedi tunggal, menulis aksara, mendongeng, dan menulis cerpen telah diberikan oleh semua narasumber. Praktik baik pembelajaran revitalisasi bahasa daerah tahun 2026 ini difokuskan pada penguatan aspek pembelajaran yang diterima oleh para peserta sebagai bekal untuk pengimbasan di lingkungan sekolah.
Hal tersebut ditegaskan kembali oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Arie Andrasyah Isa, pada sesi penutupan kegiatan. Ia mengajak seluruh peserta untuk menguatkan komitmen pengimbasan ke lingkungan sekolahnya sebagai bentuk pelestarian bahasa daerah berbasis lingkungan pendidikan. "Kami mohon Bapak dan Ibu sungguh-sungguh mengimbaskan pelestarian bahasa daerah ke rekan sejawat, minimal pembelajaran bahasa daerah dapat diterapkan di kelas. Jadi, mohon jika nanti kami melakukan evaluasi ke sekolah, proses pembelajaran bahasa daerah sudah berjalan. Pesan dari saya bahwa hal ini merupakan tugas kita bersama. Jadi, kami menitipkan amanat undang-undang terkait pelestarian bahasa daerah yang harus kita lakukan bersama-sama tanpa pamrih," pesannya mengajak Bapak dan Ibu guru untuk melakukan pengimbasan materi pembelajaran revitalisasi bahasa daerah di lingkungan sekolah.
Dengan adanya kegiatan ini, praktik baik yang diterima oleh para peserta membuka ruang kreativitas dan berbagai ragam ekspresi pembelajaran bahasa Sasak. Pada penutupan kegiatan, keempat peserta yang merupakan perwakilan guru SD dan SMP berkesempatan menampilkan hasil pembelajaran yang diterima. Penampil pertama, yaitu Pari Husnan dari SDN 1 Otak Rarangan membawakan tembang Sasak berjudul "Mas Kumambang". Penampil kedua, yakni Yuliani dari SDN 2 Sikur menampilkan puisi berjudul "Jaman Jogang" karya H. Amrullah. Berikutnya, penampil ketiga, Toni Azhare dari SMPN 2 Lingsar menampilkan komedi tunggal, dan penampil terakhir, Sri Sudarianti dari SMPN 1 Gerung membawakan puisi karya Imam Safwan.
Para peserta yang memberikan penampilan hasil pembelajaran bukan hanya sekadar berbagi praktik baik, tetapi juga menjadi bentuk ruang ekspresi terbuka terhadap pembelajaran revitalisasi bahasa daerah. Pembelajaran pada kegiatan ini membuka jalan bagi seluruh guru untuk tampil mengekspresikan karya dalam bentuk bahasa daerah dan menghidupkan geliat para penutur jati bahasa Sasak, twrutama di lingkungan pendidikan.
Penguatan lainnya juga disampaikan oleh Gilang Aryo Damar selaku ketua panitia. Ia menyampaikan saran dan masukan peserta yang sudah mengisi kuesioner evaluasi. Beberapa masukan dan penilaian di antaranya perihal pemberian ATK, panitia dan narasumber sangat baik, ramah, dan membantu peserta. Adapun saran untuk para peserta agar kegiatan ke depan, peserta perlu membawa alat tulis dan kelengkapan pribadi. "Kami menyampaikan permohonan maaf jika dalam pelayanan kami masih belum maksimal. Kami juga berterima kasih kepada para peserta yang telah mengikuti ketujuh materi pembelajaran revitalisasi bahasa Sasak dari awal sampai akhir," imbuh Gilang menutup laporan kegiatan.