Balai Bahasa dan INOVASI NTB Latih 40 Guru dan 200 Siswa Meningkatkan Pemahaman terhadap Bacaan
Praya, 7 Mei 2026—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan INOVASI NTB menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Mengulas Buku bagi Siswa SD di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 6—7 Mei 2026, di Ruang Pertemuan PGRI Kecamatan Praya dengan melibatkan 200 siswa SD dari sekolah-sekolah dengan nilai literasi K-1 di Kabupaten Lombok Tengah.
Sebelum pelatihan bagi siswa dilaksanakan, Balai Bahasa dahulu melakukan sosialisasi kepada 40 guru yang nantinya bertindak sebagai pendamping siswa selama proses pembelajaran. Sosialisasi telah dilakukan pada 4 Mei 2026 lalu. Kali ini, bimtek akan dilakukan langsung kepada siswa. Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan dibagi menjadi dua gelombang dengan format dan narasumber yang sama, masing-masing diikuti oleh 100 siswa SD yang berbeda.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber dari INOVASI NTB, yakni Ahmad Supriadi Guna Putra, Ni Ketut Mayoni, dan Dewi Rohiani. Ketiganya memfasilitasi pelatihan mengulas buku dengan pendekatan yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Jumadi. Dalam sambutannya, Jumadi berharap para siswa dapat menikmati proses belajar sambil bermain selama pelatihan berlangsung. Ia juga meminta agar anak-anak membebaskan diri dari rasa takut salah saat mengikuti kegiatan. “Anak-anak harus berani mencoba dan berani bercerita. Jangan takut salah selama pelatihan berlangsung karena kegiatan ini adalah tempat belajar bersama,” ujar Jumadi.
Selama pelatihan, ketiga narasumber dari INOVASI NTB selalu mengawali sesi dengan permainan menarik untuk melatih konsentrasi siswa. Setelah siswa dipastikan siap belajar, dilakukan tes awal kepada siswa jenjang kelas rendah yang diwakili siswa kelas 3 SD dan jenjang kelas tinggi yang diwakili siswa kelas 5 SD. Tes tersebut digunakan sebagai data kemampuan awal siswa sebelum mengikuti pelatihan.
Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan jenjang kemampuan membaca. Masing-masing narasumber bertindak sebagai fasilitator pada setiap kelompok pelatihan.
Sebelum mengulas buku, siswa terlebih dahulu diminta membaca buku yang mereka bawa dan pilih secara saksama. Setelah itu, narasumber memberikan pemantik tentang cara mengulik hasil bacaan siswa. Guru pendamping kemudian didorong untuk secara langsung mempraktikkan teknik bertanya kepada siswa agar mereka mampu menceritakan kembali isi buku serta mengungkapkan pendapat terhadap bacaan yang telah dibaca.
Selama dua jam, sesi kelompok dimaksimalkan untuk membangun keberanian dan kemampuan siswa dalam memahami bacaan. Setelah seluruh siswa selesai membaca dan menjawab pertanyaan, beberapa perwakilan siswa maju untuk menceritakan kembali pengalaman membacanya.
Salah seorang siswa, Putri dari SDN 2 Barejulat, menceritakan kisah tentang kelinci malas yang baru saja ia baca. Tidak hanya mengulas isi cerita, Putri juga menyampaikan pendapatnya terhadap buku tersebut. Menurutnya, kisah itu layak dibaca oleh siswa yang sedang tidak bersemangat belajar dan beraktivitas karena memberikan pesan motivasi yang baik.
Menurut Ni Ketut Mayoni, metode presentasi antarteman sangat efektif diterapkan pada kelas besar. Dengan metode tersebut, siswa dapat memperoleh contoh konkret dari teman sebayanya.
“Dengan menyaksikan teman yang berani tampil, meski masih dengan beberapa kesalahan di dalamnya, siswa juga akan mendapat kepercayaan diri,” jelasnya.
Ketut juga menambahkan bahwa guru perlu membangun pendekatan yang hangat sebelum meminta siswa menjawab pertanyaan atau bercerita.
“Permasalahan siswa bukan karena mereka tidak bisa menjawab pertanyaan guru, tetapi mereka tidak biasa diberi pertanyaan secara langsung, apalagi oleh orang yang belum terlalu mereka kenal. Oleh karena itu, sebelum meminta anak menjawab pertanyaan dan bercerita, pendekatan yang menyenangkan juga perlu dilakukan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ahmad Supriadi Guna Putra menekankan pentingnya memberi kebebasan berekspresi kepada siswa saat mengulas buku. Menurutnya, siswa perlu didorong menggunakan bahasa mereka sendiri tanpa terlalu cepat dikoreksi.
“Sangat baik bila siswa dapat memilih kosakata sendiri yang tidak sama dengan yang ada di teks. Itu berarti siswa telah memahami isi bacaan,” jelas Ahmad.
Kegiatan Bimbingan Teknis Mengulas Buku ini akan dilanjutkan dengan tahap evaluasi yang direncanakan berlangsung pada 22 Mei 2026. Pada tahap tersebut, akan dilakukan tes akhir untuk melihat peningkatan kemampuan siswa setelah mengikuti pelatihan.
Selain itu, siswa juga diminta membuat video mengulas buku sebagai bentuk praktik lanjutan. Dari 200 video yang terkumpul nantinya, akan dipilih enam video terbaik untuk diikutsertakan dalam Lomba Mengulas Buku Tingkat Nasional.