Layanan Pembinaan Bahasa dan Sastra: Pengenalan Literasi bagi Siswa SD IT Anak Sholeh Mataram

Mataram, 21 Mei 2026--Literasi sekolah merupakan program yang tidak hanya membentuk kemampuan nalar siswa, tetapi juga mendorong pemahaman siswa dalam berbagai aspek. Berpijak dari hal tersebut, Balai Bahasa Provinsi NTB terus gencar memperkenalkan materi pembelajaran literasi kepada siswa, terutama siswa sekolah dasar. Hal ini yang menjadi tujuan dari kunjungan SD IT Anak Sholeh Mataram ke Balai Bahasa Provinsi NTB. Pada kegiatan pembelajaran di luar kelas, sebanyak 114 siswa dan 10 guru SD IT Anak Sholeh mendapatkan layanan pembinaan bahasa dan sastra dengan tema "Pengenalan Literasi Sekolah" dari Balai Bahasa Provinsi NTB.

Adanya kunjungan pada hari ini mendapat atensi dari Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan apresiasi atas kehadiran guru dan siswa kelas III SD IT Anak Sholeh Mataram yang telah mempercayakan Balai Bahasa Provinsi NTB sebagai salah satu tempat belajar siswa. "Saya mengapresiasi semangat Bapak dan Ibu guru dalam membimbing siswa. Saya mendengar bahwa Balai Bahasa Provinsi NTB sudah sering bekerja sama dengan SD IT Anak Sholeh Mataram dalam hal layanan pembinaan bahasa dan sastra siswa. Hal ini patut kita apresiasi. Pesan saya, Adik-Adik belajar sepanjang hayat, ya. Harus semangat belajar," pesan Arie Andrasyah Isa saat memberikan sambutan di Aula Cilinaya, Balai Bahasa Provinsi NTB.

Perwakilan guru SD IT Anak Sholeh, Iwan Hirwan juga menyampaikan apresiasi serupa atas kerja sama dan sambutan yang baik dari Balai Bahasa Provinsi NTB. Ia menyampaikan tujuan kunjungan untuk proses pembelajaran siswa di luar kelas dan merangsang pengetahuan siswa dalam literasi sekolah. Jadi, ia berharap dengan adanya pembelajaran di luar kelas dapat menambah ilmu dan pengetahuan siswa.

Pengenalan materi literasi diawali dengan pembacaan cerita berjudul "Sate Bulayak Piaqan Papuq" oleh Baiq Jihan Olvy Wanasatya dan Nurcholis Muslim. Cerita tersebut mengisahkan salah satu makanan tradisional suku Sasak, yaitu sate bulayak. Nurcholis memantik fokus siswa dengan berbagai pertanyaan seputar cerita yang telah dibacakan. Antusias siswa terlihat dalam memberikan tanggapan beragam jawaban. Berikutnya, cerita kedua yang dibawakan, yaitu "Langit Menangis" karya Wasilatul Jannah. Nurcholis menuturkan bahwa dalam buku cerita tersebut ada pesan moral bahwa penyesalan bisa saja datang. Menyesal karena gagal ujian, menyesal karena tidak patuh terhadap kedua orang tua, atau menyesal karena hal lain. Ada juga perasaan bingung yang ditampilkan dalam cerita "Langit Menangis". Pesannya adalah bahwa sebelum datang penyesalan, adik-adik perlu teguh dalam belajar agar tidak menyesal di kemudian hari.

Kegiatan berikutnya adalah aktivitas membaca di Ruang Perpustakaan dan Kantin Literasi. Siswa diajak untuk mengenal berbagai buku literasi jenjang sekolah dasar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman siswa. Didampingi oleh guru dan pendamping teknis dari Balai Bahasa Provinsi NTB, proses pembelajaran literasi menjadi menarik dan asyik bagi siswa. Adapun kegiatan lainnya adalah permainan literasi melalui tebak kata yang menarik minat dan mengasah kemampuan literasi dasar. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan pengisian tugas reviu aktivitas materi literasi pada buku lembar kerja siswa yang didampingi oleh guru.