FTBIN 2026 Gaungkan 78 Bahasa Daerah, Tunas Bahasa Ibu Bersatu dalam Keberagaman

Depok, 25 Mei 2026—Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) Tahun 2026 resmi digelar dengan mengusung tema “Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa”. Kegiatan ini menjadi puncak pelaksanaan program Revitalisasi Bahasa Daerah sekaligus bagian dari semarak peringatan Hari Pendidikan Nasional. FTBIN 2026 dilaksanakan selama lima hari, yaitu pada 22—26 Mei 2026 dengan menghadirkan peserta perwakilan dari 36 provinsi dan 78 bahasa daerah di seluruh Indonesia, yang merupakan pemenang I FTBI tingkat provinsi tahun 2025. Provinsi NTB diwakili oleh Baiq Nurica Agustina dari SMPN 1 Suralaga, Tiara Ulya Salsabila dari SDN 4 Sumbawa, dan Aisyah Az Jahra dari SMPN 1 Kota Bima. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara intensif melalui sesi latihan dan pendampingan bersama fasilitator.

Pada hari pertama, peserta mengikuti taklimat bersama panitia. Selanjutnya, pada hari kedua dan ketiga, peserta mulai berlatih sesuai peran yang telah diberikan oleh fasilitator untuk penampilan puncak festival. Kegiatan FTBIN ini dilaksanakan di Gedung Garuda, Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia, Kemendikdasmen.

Selain peserta undangan, festival ini juga memberikan ruang bagi peserta mandiri untuk tampil dalam panggung terbuka yang dilaksanakan di tempat yang sama dengan peserta undangan. Sebanyak 59 peserta mandiri dari 14 provinsi turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Setelah pertunjukan panggung terbuka, peserta undangan melaksanakan gladi kotor dan gladi bersih sebagai persiapan penampilan puncak pada 25 Mei 2026.

Dalam proses latihan, peserta dibagi ke dalam tiga wilayah wangsa, yaitu Wangsa Madhyapala, Segararimba, dan Wanasamudra. Festival ini menjadi ruang ekspresi bagi para tunas bahasa ibu melalui konsep pertunjukan massal yang menghadirkan keberagaman 78 bahasa daerah dari seluruh Indonesia.

Pada kegiatan puncak, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa FTBIN merupakan bentuk nyata dari keberhasilan program Revitalisasi Bahasa Daerah. “FTBIN ini menjadi bukti bahwa wajah pendidikan kita semakin ramah. Kita bukan menyamakan keberagaman, tetapi menghargai perbedaan,” ujarnya. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan pelestarian tradisi daerah.

Pada kesempatan tersebut, Badan Bahasa juga memberikan apresiasi kepada kepala daerah, pegiat sastra, pegiat literasi, serta pelestari bahasa dan sastra daerah. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dan Wakil Ketua II Komite III DPD RI, Jelita Donal. Dalam sambutannya, Jelita Donal menegaskan bahwa bahasa ibu memiliki peran penting dalam perkembangan psikologis anak serta menjadi identitas budaya setiap daerah. “Mari sama-sama berkomitmen melestarikan bahasa agar bahasa daerah tidak hilang,” ungkapnya.

Sementara itu, Atip Latipulhayat menyampaikan bahwa tahun ini merupakan kali kedua dirinya menghadiri FTBIN. Menurutnya, festival tersebut tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial tahunan. “Festival ini jangan sampai dimaknai sebagai monumen atau rutinitas, tetapi jadikan sebagai eksistensi karena eksistensi sebuah daerah tergantung pada bahasanya,” ujarnya. Ia juga memberikan dua masukan penting dalam upaya pelestarian bahasa daerah, yaitu penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran di sekolah serta pemanfaatan persatuan dalam keberagaman budaya Indonesia.