Balai Bahasa Provinsi NTB Gelar Bimtek Penggunaan Bahasa dan Strategi Penerjemahan Cerita Anak
Mataram, 26 Mei 2026--Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penggunaan Bahasa dan Strategi Penerjemahan dalam Penulisan Cerita Anak. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom tersebut menghadirkan narasumber Toni Samsul Hidayat dan Kasman. Bimtek ini diikuti oleh 50 penulis terpilih Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2026 serta para penyunting yang akan terlibat dalam proses penyuntingan naskah cerita anak.
Ketua panitia, Safoan Abdul Hamid, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian pembuatan produk penerjemahan yang diawali dengan Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2026. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini penting dilaksanakan karena Balai Bahasa sebagai lembaga di bawah Badan Bahasa, Kemendikdasmen, memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas kebahasaan seluruh produknya, termasuk buku cerita anak dwibahasa.
Menurut Safoan, kesalahan bahasa sekecil apapun tidak dapat ditoleransi dalam produk kebahasaan. Hal serupa juga berlaku dalam penerjemahan karena kesalahan penerjemahan dapat berakibat fatal terhadap kualitas hasil terjemahan. Ia menambahkan bahwa bimbingan terkait strategi penerjemahan selama ini kerap terlewatkan sehingga penulis yang sekaligus menjadi penerjemah perlu mendapatkan pemahaman mengenai strategi dan metodologi penerjemahan yang tepat. Ia berharap kegiatan tersebut dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas buku cerita anak yang akan diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Adriansyah Isa, dalam sambutannya menekankan bahwa kesalahan kecil dalam penerjemahan tetap dapat memengaruhi kualitas terjemahan cerita anak. Ia juga menyinggung pentingnya memperhatikan unsur lokalitas dalam penerjemahan karena setiap bahasa memiliki unsur budaya yang melekat, baik dalam kosakata maupun struktur kalimat. Dalam konteks tersebut, ia menjelaskan salah satu teori penerjemahan, yakni foreignisasi, yang mempertahankan unsur budaya dan kekhasan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran agar identitas lokal tetap terasa dalam hasil terjemahan. Menurutnya, pendekatan tersebut penting diterapkan dalam penerjemahan cerita anak berbasis daerah karena dapat memperkenalkan budaya lokal kepada pembaca tanpa menghilangkan nuansa asli cerita. Selain itu, Arie juga menekankan pentingnya strategi dan metodologi penerjemahan serta upaya meminimalisasi kesalahan ejaan dalam penulisan cerita anak dwibahasa.
“Dalam penerjemahan cerita anak daerah, lokalitas jangan sampai hilang. Unsur budaya, kosakata khas, bahkan struktur tertentu dari bahasa asal tetap perlu dipertahankan agar pembaca dapat mengenal identitas budaya yang terkandung di dalam cerita,” ujar Arie.
Dalam sesi materi, Toni Samsul Hidayat menjelaskan berbagai contoh penulisan kalimat pada papan cerita serta penerjemahannya dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Ia memaparkan sejumlah strategi penerjemahan yang dapat digunakan penulis agar makna dan nuansa budaya dalam cerita tetap terjaga. Adapun Kasman menyampaikan materi mengenai penggunaan ejaan bahasa Indonesia melalui studi kasus dan latihan soal kebahasaan. Materi tersebut diberikan untuk meningkatkan ketelitian peserta dalam penggunaan ejaan, tanda baca, dan struktur kalimat pada penulisan cerita anak dwibahasa.