Gali Kebaruan dalam Berkarya Sastra dan Musik, Balai Bahasa NTB Gelar Lomba Musikalisasi Puisi 2026

Mataram, 2 Juni 2026--Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat sukses menyelenggarakan kegiatan Penilaian Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Provinsi Tahun 2026. Bertempat di Ruang Bayan Balai Bahasa Provinsi NTB, ajang tahunan ini dilaksanakan secara hibrida dengan mengusung tema sebagaimana yang diangkat pada Festival Musikalisasi Puisi Nasional, "Melihat Laut Terbentang Biru".

Sebanyak 10 tim Musikalisasi Puisi dari berbagai SMA dan MA di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat turut ambil bagian dalam kompetisi ini. Sebaran peserta tidak hanya berpusat di Pulau Lombok, tetapi juga terdapat keterwakilan dari sekolah di Pulau Sumbawa yang mengirimkan tiga tim terbaiknya.

Dalam festival tahun ini, setiap tim diwajibkan mengirimkan video penampilan yang membawakan dua kategori puisi, yakni Puisi Wajib "Anak Laut" karya Asrul Sani dan Puisi Pilihan yang terdiri atas 10 puisi dari 10 penyair nasional. Sesuai dengan tema besar yang diangkat, seluruh materi puisi yang dikompetisikan berkaitan erat dengan filosofi dan pesona laut.

Proses penilaian dilakukan secara ketat oleh tiga dewan juri yang kompeten di bidangnya masing-masing, yakni Kiki Sulistyo yang berfokus pada Penafsiran Puisi, Agus Wintarno (Winsa) yang berokus pada Visualisasi Musikalisasi Puisi, dan Pantjoro Sumarsa yang berfokus pada Aransemen dan Instrumentasi.

Kiki Sulistyo mengapresiasi keberanian para peserta tahun ini yang dinilai lebih eksploratif. "Sudah ada keberanian untuk membuat kebaruan-kebaruan, seperti pada warna musik, genre musik, pemilihan puisi yang sebetulnya sulit dimusikalisasi, dan alat musik yang dipilih," ujar Kiki.

Meski demikian, para juri memberikan catatan penting untuk evaluasi ke depan. Kiki menyoroti masalah klasik berupa penafsiran puisi yang kurang dalam dan jauh karena kurangnya alokasi waktu dan tenaga peserta untuk membedah teks. Senada dengan Kiki, Winsa mengingatkan agar musik jangan sampai 'menenggelamkan' makna puisi. "Padahal musikalisasi puisi harus bermula dari puisi. Unsur puitisnya harus muncul. Artikulasi peserta juga harus lebih jelas karena puisi itu soal kata," tegas Winsa.

Sementara itu, dari sisi teknis musikal, Pantjoro Sumarsa menyoroti kurangnya kejutan dalam dinamika lagu. Menurutnya, variasi tempo yang dihadirkan oleh peserta tidak serta merta membebaskan seluruhnya dari frekuensi yang sama, "Secara keseluruhan penampilan terdengar monoton. Padahal banyak potensi dalam aransemen yang bisa dimainkan Kembali."

Di luar catatan evaluasi tersebut, dewan juri memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kerja keras siswa. Winsa menekankan bahwa proses berpikir, berlatih, dan perkembangan pengetahuan siswa selama menggarap karya adalah hal yang paling bernilai. Pandangan ini didukung penuh oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Saat membuka acara, Arie Andrasyah Isa selaku pimpinan menyampaikan pesan menyentuh bahwa seluruh peserta yang berpartisipasi pada dasarnya adalah pemenang. Menurutnya, penyematan gelar juara formal hanyalah sebuah kemenangan kecil. "Kemenangan yang sesungguhnya terjadi bila proses belajar tidak terhenti," tegas Kepala Balai Bahasa NTB.

Panitia menetapkan akan ada empat tim yang dinyatakan berhak menjadi pemenang dalam festival tingkat provinsi ini. Pemenang I dan Pemenang II secara otomatis akan menjadi delegasi resmi yang mewakili Balai Nusa Tenggara Baray dalam ajang Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional. Pengumuman pemenang dijadwalkan akan dirilis secara resmi besok, Rabu, 3 Juni 2026, di media sosial Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat.