Balai Bahasa Provinsi NTB Petakan Tiga Sastra Lisan di Pulau Lombok

Lombok, 29 Juni 2026—Tim Pemetaan Balai Bahasa Provinsi NTB bergerak mengumpulkan data sastra lisan untuk program Peta Kebinekaan Bahasa, Sastra, dan Aksara. Tim terdiri atas tiga kelompok yang menyasar tiga jenis sastra lisan di tiga lokus yang berbeda.

Tim pertema bertugas mengumpulkan data terkait teater tradisional Cupak Gerantang yang berada di Desa Samaguna, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Cupak Gerantang adalah cerita rakyat dari Bali dan Lombok yang mengisahkan kakak beradik yang bertolak belakang karakternya. Cupak, sang kakak, terkenal sebagai seorang pemalas dan serakah, sedangkan Gerantang, sang adik adalah seorang yang pemberani dan baik hati.

Tim kedua bertugas mengumpulkan data dan merekam contoh bekayat atau nyaer di Desa Aiq Bukaq, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Bekayat adalah suatu kesenian tradisional Lombok yang dilakukan dua orang dalam membacakan hikayat dan syair-syair berhuruf Pegon dan berbahasa Melayu. Salah satu penutur akan membacakan dan menyairkannya dalam bahasa Melayu, sedangkan seorang yang satunya akan menerjemahkan ke dalam bahasa Sasak.

Tim ketiga bertugas mengumpulkan data dan merekam praktik memaos di Desa Kuripan Utara, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat. Kesenian memaos mirip dengan bekayat. Perbedaannya terletak pada jenis naskah sumber dan pelakunya. Memaos menggunakan takepan atau naskah lontar yang berhurup Jejawan Sasak dan berbahasa Kawi ataupun Sasak. Penuturnya biasanya berjumlah tiga orang; satu orang membaca naskah dan menembangkannya, satu orang menerjemahkannya ke dalam bahasa Sasak atau Indonesia, dan satu orang lainnya menjadi penyokong penembang.

Ketiga kesenian yang berbentuk tradisi lisan tersebut menunjukkan betapa kayanya tradisi di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Pulau Lombok. Untuk Bekayat dan Memaos, keduanya masih aktif dipraktikkan sehingga pewarisannya tergolong baik. Sementara itu, pewarisan tetaer tradisional Cupak Gerantang cukup mengkhawatirkan karena mulai minat generasi muda terhadap teater tradisional menurun. Namun, Cupak Gerantang sebagai sebuah cerita masih relatif aman.

Data yang berhasil dikumpulkan berbentuk teks dan juga rekaman audiovisual. Nantinya, data tersebut harus diolah dan divalidasi oleh tim ahli untuk selanjutnya akan disajikan dalam Peta Kebinekaan Bahasa, Sastra, dan Aksara.