Evaluasi Triwulan II, Balai Bahasa Provinsi NTB Perkuat Kolaborasi untuk Maksimalkan Program Kebahasaan dan Kesastraan

Mataram, 3 Juli 2026—Satu per satu capaian dipaparkan. Mulai dari peningkatan jumlah peserta Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), pembinaan literasi di sekolah, pelestarian bahasa daerah, hingga pengembangan buku cerita anak berbahasa daerah. Seluruhnya menjadi bahan refleksi dalam Evaluasi Pelaksanaan Program, Kegiatan, dan Anggaran Triwulan II yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara daring melalui Zoom, Jumat (3/7).

Evaluasi triwulan bukan sekadar forum penyampaian laporan. Melalui kegiatan ini, setiap tim kerja meninjau capaian, mengidentifikasi kendala, serta menyusun langkah mitigasi agar target kinerja hingga akhir tahun dapat dicapai secara lebih optimal.

Paparan pertama disampaikan oleh Hartanto yang mewakili Tim Kerja Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Ia melaporkan bahwa hingga akhir Triwulan II, layanan UKBI Adaptif Balai Bahasa Provinsi NTB telah diikuti oleh 1.854 peuji. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring dengan berbagai kegiatan sosialisasi, pendampingan, dan pelaksanaan tes yang telah dijadwalkan pada semester kedua tahun 2026.

Selanjutnya, Tim Kerja Literasi yang diwakili Nurcholis Muslim memaparkan tiga program utama yang telah dilaksanakan. Program tersebut meliputi Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Literasi untuk jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, serta kegiatan Krida Duta Bahasa yang melibatkan 20 sekolah di Provinsi NTB.

Melalui Krida Duta Bahasa, para peserta menghasilkan karya esai yang telah dikirim ke pusat untuk mengikuti seleksi lomba esai tingkat nasional. Menurut Nurcholis, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan literasi sekaligus membangun budaya berbahasa Indonesia yang baik di lingkungan sekolah.

Paparan berikutnya disampaikan Toni Samsul Hidayat mewakili Tim Kerja Pembinaan Bahasa dan Hukum (Pembahu). Ia menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan lembaga telah dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Sumbawa Barat. Kegiatan tersebut difokuskan pada pendampingan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan dokumen kelembagaan agar semakin sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Dari bidang pelindungan bahasa dan sastra, Kasman menyampaikan bahwa selama Triwulan II 2026, tim telah melaksanakan berbagai kegiatan strategis. Kegiatan tersebut meliputi Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD), pengambilan data untuk penyusunan Peta Bahasa pada tiga titik desa di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima, serta pengumpulan data korpus kebahasaan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Tengah. Seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pendokumentasian sekaligus pelestarian bahasa daerah di Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu, Tim Kerja Penerjemahan yang diwakili Safoan Abdul Hamid melaporkan perkembangan program penyusunan buku cerita anak berbahasa daerah. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi NTB menerima 250 naskah cerita anak, jumlah tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari keseluruhan naskah tersebut, tim telah menyeleksi 50 naskah yang berasal dari tiga bahasa daerah di NTB. Seluruh naskah telah melewati proses penyuntingan dan kini memasuki tahap pembuatan ilustrasi oleh ilustrator yang telah ditetapkan sebelum nantinya diterbitkan sebagai bahan bacaan anak.

Pada kesempatan yang sama, Tim Kerja Perkamusan yang diwakili M. Syamsur Rijal melaporkan hasil inventarisasi kosakata bahasa Samawa. Selama Triwulan II 2026, tim telah melaksanakan Inventarisasi Kosakata Bahasa Samawa di Kabupaten Sumbawa Barat serta Lokakarya Kosakata Bahasa Samawa di Kota Mataram. Dari rangkaian kegiatan tersebut berhasil dihimpun 327 kosakata bhhasa Samawa yang akan menjadi bagian penting dalam upaya pendokumentasian dan pengembangan perkamusan bahasa daerah.

Paparan terakhir disampaikan oleh Lale Li Datil mewakili Tim Kerja Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Ia menjelaskan bahwa tim telah melaksanakan Bimbingan Teknis Program BIPA Berbasis Kearifan Lokal. Melalui kegiatan tersebut, target fasilitasi terhadap sembilan lembaga penyelenggara Program BIPA berhasil dicapai. Program ini diharapkan semakin memperkuat promosi bahasa Indonesia kepada penutur asing sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal Nusa Tenggara Barat sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Menutup kegiatan evaluasi, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, menekankan bahwa setiap program yang telah dilaksanakan tidak hanya perlu dilaporkan sebagai capaian, tetapi juga harus disertai evaluasi yang komprehensif dan mitigasi risiko sebagai bekal pelaksanaan program pada triwulan berikutnya. "Setiap kegiatan harus memiliki evaluasi dan mitigasi risiko yang dapat diterapkan pada pelaksanaan berikutnya. Dengan demikian, berbagai kendala yang muncul dapat diantisipasi sehingga target program tetap dapat dicapai secara maksimal," ujarnya.

Arie juga mengingatkan pentingnya membangun kolaborasi yang kuat di lingkungan Balai Bahasa Provinsi NTB. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh tim teknis, tetapi juga oleh dukungan administrasi yang berjalan selaras.

Ia berharap sinergi antartim terus diperkuat sehingga daya serap anggaran, kualitas pelaksanaan kegiatan, dan capaian kinerja lembaga dapat semakin meningkat hingga akhir tahun anggaran 2026. Evaluasi Triwulan II 2026 pun menjadi pijakan untuk memastikan setiap program kebahasaan dan kesastraan tidak hanya terlaksana, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.