Balai Bahasa Provinsi NTB dan Majelis Adat Sasak Rencanakan Pesta Besar di Bulan Bahasa

Mataram, 4 Juli 2026--Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Majelis Adat Sasak (MAS) menggelar Rapat Pembentukan Panitia Kongres Bahasa Sasak Tahun 2026 di Ruang Bayan Balai Bahasa Provinsi NTB. Rapat tersebut menjadi langkah awal dalam mempersiapkan penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak yang direncanakan dilaksanakan pada Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa dan Sastra.

Kegiatan dihadiri oleh Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, komunitas pemerhati bahasa, serta para penyuluh bahasa. Rapat diawali dengan silaturahmi, dilanjutkan penyampaian maksud dan tujuan penyelenggaraan kongres, diakhiri pembahasan format kegiatan sekaligus pembentukan kepanitiaan.

Dalam sambutannya, Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, menegaskan bahwa Kongres Bahasa Sasak merupakan kebutuhan yang telah lama diresahkan masyarakat Sasak. Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan kebahasaan yang memerlukan kesepahaman bersama, seperti persoalan dialek, penulisan, serta berbagai aspek pengembangan bahasa Sasak. "Kongres ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi terkait pelestarian bahasa Sasak yang berujung pada peraturan daerah," ujar Lalu Sajim Sastrawan. Ia menambahkan bahwa keberagaman dialek merupakan kekayaan bahasa Sasak yang harus dipandang sebagai khazanah budaya, bukan sebagai penghalang untuk membangun kesepahaman.

Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak merupakan cita-cita yang telah lama diharapkan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya pemajuan bahasa daerah di Nusa Tenggara Barat. "Kongres Bahasa Sasak adalah impian yang telah kami cita-citakan sejak lama. Meski sudah pernah dilakukan, konon belum ada tindak lanjut yang cukup signifikan," ujarnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bagaimana kedudukan Bahasa Sasak dalam fungsi Balai Bahasa. Balai Bahasa memiliki tugas mengutamakan penggunaan bahasa negara, melestarikan bahasa daerah melalui berbagai program, termasuk Revitalisasi Bahasa Daerah, serta mendukung penginternasionalan bahasa Indonesia. "Kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Bahasa Sasak melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," ungkap Arie.

Sebelum kongres dilaksanakan, Arie merasa perlu diselenggarakan rangkaian prakongres sebagai forum koordinasi dan konsolidasi. Kegiatan tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai persoalan kebahasaan sekaligus menyusun bahan rekomendasi yang akan dibahas pada kongres. Anggota rapat mengusulkan agar prakongres melibatkan para pakar, akademisi, tokoh masyarakat, serta perwakilan setiap paer di Pulau Lombok. Selain itu, pengumpulan kajian sosiolinguistik dinilai penting untuk memberikan dasar ilmiah dalam merumuskan rekomendasi kongres yang nantinya dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah, DPRD, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Berbagai masukan turut disampaikan oleh peserta rapat. Perwakilan BRIN menekankan pentingnya memanfaatkan hasil-hasil kajian dan rekomendasi yang telah dihasilkan sebelumnya sehingga prakongres tidak memulai pembahasan dari awal. Sementara itu, para akademisi dan pemerhati bahasa menyoroti perlunya kajian sosiolinguistik mengenai variasi dialek Bahasa Sasak, penguatan penggunaan bahasa Sasak di lingkungan keluarga dan masyarakat, penyusunan kurikulum pembelajaran Bahasa Sasak, hingga pentingnya melibatkan pondok pesantren, tokoh adat, tokoh agama, dan komunitas budaya dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Selain itu, forum secara musyawarah membentuk struktur kepanitiaan Kongres Bahasa Sasak Tahun 2026. Dr. Khairul Anwar, M.Pd., dipercaya sebagai Ketua Panitia dengan didampingi unsur Balai Bahasa Provinsi NTB, BRIN, perguruan tinggi, Majelis Adat Sasak, dan berbagai komunitas budaya dalam kepengurusan. Kepanitiaan ini akan segera menyusun agenda kerja, membangun koordinasi dengan pemerintah daerah, serta mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan menuju Kongres Bahasa Sasak pada Oktober mendatang. Melalui sinergi antara pemangku kepentingan, Kongres Bahasa Sasak Tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Bahasa Sasak sebagai identitas budaya masyarakat Lombok sekaligus menghasilkan rekomendasi strategis bagi kebijakan pemajuan bahasa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.