Kemah Literasi

Mataram, 5 Juli 2026--Kemah Literasi Gerakan Literasi Tradisional Nusa Tenggara Barat (Gelitra NTB) 2026 resmi ditutup. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sejak 3--5 Juli 2026 tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat budaya literasi berbasis kearifan lokal melalui sinergi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas literasi, pegiat budaya, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Arie Andrasyah Isa turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut dengan menugaskan Ketua Tim Kerja Pembinaan, Nurcholis Muslim untuk berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan sebagai bentuk komitmen Balai Bahasa dalam mendukung penguatan ekosistem literasi di daerah. Rangkaian kegiatan diawali dengan Gelar Gerakan Literasi Tradisional NTB yang menghadirkan beragam permainan tradisional, pameran komunitas literasi, pojok baca, serta berbagai aktivitas edukatif yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal sebagai media pembelajaran. Berbagai wahana literasi tersebut mendapat sambutan antusias dari sekitar 120 peserta yang berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat. Peserta terdiri atas pegiat literasi, guru, mahasiswa, pelajar, anak-anak, serta unsur masyarakat yang bersama-sama merayakan literasi dalam nuansa budaya daerah.

Pada acara penutupan, panitia menyampaikan bahwa Kemah Literasi Gelitra NTB 2026 merupakan salah satu ikhtiar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat di Nusa Tenggara Barat. Melalui pendekatan berbasis budaya, gerakan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem literasi yang tumbuh dari masyarakat dan terintegrasi dengan satuan pendidikan sehingga tercipta budaya membaca dan belajar yang berkelanjutan. Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sinta Agathia M. Iqbal, dalam sambutannya menegaskan bahwa gerakan literasi memerlukan pendekatan yang adaptif dan inovatif agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, Gelitra NTB menghadirkan model pembaruan dengan menjadikan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan budaya literasi, sekaligus menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang sarat nilai karakter, kreativitas, dan kebersamaan.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, yang secara resmi menutup kegiatan, menekankan bahwa budaya membaca merupakan pintu masuk dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kebiasaan membaca sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga dan komunitas. Menurutnya, membaca tidak cukup sekadar menjadi rutinitas, tetapi harus dilakukan secara tuntas agar melahirkan pemahaman yang mendalam. Kebiasaan tersebut juga perlu diiringi dengan budaya menulis sebagai sarana menuangkan gagasan, memperkaya pengetahuan, dan membangun peradaban yang maju.

Kemah Literasi Gelitra NTB 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan para pegiat literasi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dalam merumuskan gerakan literasi yang berakar pada budaya lokal. Melalui sinergi yang terbangun antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya baca, melestarikan permainan tradisional, serta membangun masyarakat Nusa Tenggara Barat yang semakin literat, berkarakter, dan berdaya saing.