Balai Bahasa Provinsi NTB Tingkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia Duta Bahasa

Mataram, 20 Juli 2026 — Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Balai Bahasa Provinsi NTB tersebut diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas Duta Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dan pegawai Balai Bahasa Provinsi NTB. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi kebahasaan dan kesastraan para Duta Bahasa agar mampu menjalankan perannya sebagai teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sekaligus menjadi penggerak pemasyarakatan bahasa dan sastra di tengah masyarakat.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Arie Andrasyah Isa. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Duta Bahasa bukan sekadar ajang kompetisi yang berakhir setelah masa pemilihan selesai, melainkan agen bahasa yang akan terus mengemban tanggung jawab dalam memasyarakatkan bahasa Indonesia dan sastra Indonesia sepanjang kiprahnya sebagai Duta Bahasa. Oleh karena itu, kemampuan kebahasaan dan kesastraan harus senantiasa diperbarui melalui pembelajaran berkelanjutan agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika masyarakat, serta kebijakan kebahasaan yang terus berkembang.

Materi kebahasaan disampaikan oleh staf teknis Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lentera Nurani Setra mengulas penerapan Ejaan Bahasa Indonesia sesuai kaidah terbaru, mulai dari penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan penulisan bilangan hingga penulisan kata yang masih sering menimbulkan keraguan dalam praktik sehari-hari. Kasman bentuk dan pilihan kata dengan menekankan pentingnya ketepatan diksi, penggunaan kata baku, pembentukan kata melalui proses morfologis, serta pemilihan kosakata yang sesuai dengan konteks komunikasi. Kasman juga menyampaikan materi tentang kalimat yang mencakup penyusunan kalimat efektif, hubungan antarklausa, kepaduan gagasan, dan kesalahan-kesalahan yang kerap ditemukan dalam penulisan maupun komunikasi resmi. Rondiyah memperkenalkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sebagai sarana pengukuran kemahiran berbahasa Indonesia, termasuk fungsi, struktur pengujian, serta manfaat hasil UKBI dalam dunia pendidikan dan profesional.

Penguatan wawasan literasi dan kesastraan disampaikan oleh Nurcholis Muslim dan Gilang Aryo Damar. Gilang memperkenalkan sastra sebagai media pembentukan karakter, pengembangan empati, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Peserta diajak memahami ragam karya sastra, menikmati proses apresiasi sastra, serta melihat peluang pemanfaatan sastra sebagai sarana penguatan identitas dan pengungkap perasaan. Nurcholis Muslim mengakhiri sesi dengan materi Pengantar Literasi yang menyoroti pentingnya budaya membaca, menulis, berpikir kritis, serta kemampuan memahami dan mengolah informasi sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang cakap literasi. 

Melalui kegiatan ini, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat berharap Duta Bahasa memiliki bekal yang memadai dalam mengimplementasikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta mengampanyekan pentingnya literasi dan sastra kepada masyarakat. Penguatan kompetensi ini diharapkan menjadi modal bagi para Duta Bahasa untuk terus berkontribusi sebagai mitra Balai Bahasa Provinsi NTB dalam meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia, melestarikan sastra, dan memperkuat budaya literasi di Nusa Tenggara Barat.