Layanan Jemput Bola: Penguatan Literasi dan Penerjemahan di SMPN 1 dan SMPN 2 Kediri
Lombok Barat, 27 Juli 2026—Inovasi layanan jemput bola (jempol) yang digagas oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB tidak hanya berfokus pada pembinaan bahasa dan hukum. Saat ini layanan jempol diperluas dengan pembinaan literasi dan penerjemahan yang menyasar satuan pendidikan. Sasaran sekolah yang dikunjungi adalah SMPN 1 dan SMPN 2 Kediri, Kabupaten Lombok Barat.
Pemberian layanan jempol oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, bersama tim mendapat tanggapan positif dari pihak sekolah. Dalam sambutannya, Arie menyampaikan bahwa Balai Bahasa Provinsi NTB ingin melaksanakan sosialisasi layanan jempol, khusus untuk materi literasi dan penerjemahan. Bahasa dan literasi adalah dua hal yang penting untuk dipelajari sebagai bekal pengetahuan siswa. "Kita bisa merawat budaya lokal melalui bahasa daerah, khususnya di NTB ada bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo. Balai Bahasa Provinsi NTB bertugas untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah. Hal yang dilakukan adalah melalui penguatan literasi dan penerjemahan bahasa daerah. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dan komitmen kami untuk meningkatkan layanan literasi dan penerjemahan di tingkat satuan pendidikan. Kami berharap kerja sama yang baik dari pihak sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, dan murid. Mari, kita bersama-sama meningkatkan literasi sekolah dengan mendorong aktivitas pembelajaran literasi guru dan siswa," tutur Arie saat membuka kegiatan di Aula SMPN 1 Kediri.
Kepala SMPN 1 Kediri, Hj. Rofikah menguatkan pesan sekaligus arahan yang disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB. Sebanyak 240 siswa kelas VII hadir berpartisipasi pada kegiatan sosialisasi ini. Hj. Rofikah turut mendukung program jemput bola ini. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di beberapa sekolah dan SMPN 1 Kediri terpilih mendapatkan layanan ini."Kami berterima kasih karena Balai Bahasa Provinsi NTB memilih sekolah kami. Materi literasi numerasi merupakan materi yang sangat penting untuk kami. Untuk itu, silakan para murid mengikuti kegiatan ini, belajar dengan baik untuk mendapatkan ilmu," ujar Hj. Rofikah.
Materi literasi disampaikan oleh Ni Made Yudiastini. Ia menekankan materi pembelajaran pada pengenalan literasi sesuai dengan jenjang kelas. Menurutnya, literasi numerasi siswa SMP berfokus pada pelatihan kemampuan membaca cepat siswa. Guru didorong untuk ikut terlibat aktif dalam memberikan pengenalan materi dan mengajak siswa untuk mengasah kemampuan membaca cepat. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan tugas pembelajaran bahan bacaan buku yang kemudian dapat direviu oleh siswa. Berbagai instrumen kemampuan membaca cepat juga menjadi salah satu materi yang dibahas pada kegiatan ini.Lebih lanjut, Yudiastini juga memperkenalkan inovasi Benar-Benar Membaca, Membaca Benar-Benar (BBM-MBB) yang dimiliki oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Inovasi literasi ini membantu murid dan guru dalam meningkatkan kemampuan membaca, khususnya membaca cepat.
Berikutnya, materi penerjemahan buku cerita anak dalam bahasa daerah disampaikan oleh Desi Rachmawati dan I Nyoman Cahyasabdhi Santosa. Ia memperkenalkan berbagai buku cerita anak dalam bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo. Hasil terbitan Balai Bahasa Provinsi NTB tersebut menjadi salah satu produk pendamping bahan bacaan literasi di satuan pendidikan. Untuk itu, Sesi menekankan partisipasi sekolah untuk memperkenalkan buku-buku tersebut kepada para murid. Hal ini diharapkan menjadi asupan bahan bacaan yang dapat menarik minat murid dan meningkatkan kemampuan literasi murid. Nyoman menambahkan bahwa produk bahan bacaan tersebut bisa dibaca dan dijadikan referensi pembelajaran tambahan. Adapun, berbagai buku cerita digital juga dapat diakses secara gratis melalui laman budi.kemendikdasmen.go.id.
Berikutnya, kegiatan dilaksanakan di SMPN 2 Kediri diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas siswa kelas VIII dan kelas IX. Dalam kesempatan tersebut, Kepala SMPN 1 Kediri, Ruspiani menyampaikan sambutan hangat sekaligus apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Jemput Bola yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa karena mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara langsung dari para narasumber yang kompeten. Ia berharap kerja sama antara sekolah dan Balai Bahasa Provinsi NTB dapat terus berlanjut untuk mendukung peningkatan kompetensi literasi peserta didik.
Materi layanan literasi disampaikan oleh Tim Kerja Literasi Balai Bahasa Provinsi NTB, yaitu Nurcholis Muslim. Ia memperkenalkan metode pindai (scanning) dan layap (skimming). Siswa diajak memahami konsep membaca efektif untuk menemukan informasi penting secara cepat, sekaligus mempraktikkan kedua teknik tersebut melalui berbagai contoh teks dan latihan yang interaktif. Antusiasme peserta tampak ketika mereka mengikuti simulasi membaca dan menjawab pertanyaan berdasarkan informasi yang ditemukan dalam waktu singkat.
Sementara itu, layanan penerjemahan disampaikan oleh Tim Kerja Penerjemahan Balai Bahasa Provinsi NTB, yaitu Safoan Abdul Hamid. Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai pemanfaatan buku digital sebagai sumber belajar yang mudah diakses serta pentingnya perjenjangan buku dalam menyesuaikan bahan bacaan dengan tingkat kemampuan membaca siswa. Materi tersebut diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih bijak memilih bacaan yang sesuai sehingga mampu meningkatkan minat baca dan kompetensi literasi secara bertahap.
Sepanjang kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan semangat dan partisipasi yang tinggi. Diskusi, tanya jawab, dan praktik langsung menjadi bagian yang memperkaya proses pembelajaran sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Melalui kegiatan Jemput Bola ini, Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat berharap layanan literasi dan penerjemahan semakin dikenal serta dimanfaatkan oleh satuan pendidikan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat budaya membaca, meningkatkan keterampilan memahami informasi secara efektif, serta menumbuhkan kebiasaan memanfaatkan sumber bacaan digital yang berkualitas di kalangan peserta didik.