Balai Bahasa Provinsi NTB Soroti Peran Vital Bahasa Sasak
Mataram, 8 Agustus 2026—Balai Bahasa Provinsi NTB menjadi salah satu peserta yang hadir dalam kegiatan Sarasehan Bahasa dan Sastra Sasak yang diselenggarakan oleh Komite Seni dan Budaya Nusantara (KSBN) Kota Mataram di Taman Budaya Provinsi NTB. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB diwakili oleh Kasman (Widyabasa Ahli Muda). Kasman selaku perwakilan dari Balai Bahasa Provinsi NTB menyatakan bahwa tantangan terbesar bahasa Sasak dalam era teknologi informasi saat ini adalah belum adanya dialek standar yang menjadi kesepakatan penutur bahasa Sasak.
Dengan tidak adanya dialek standar, pembelajaran bahasa Sasak di sekolah-sekolah tidak seragam karena masing-masing daerah mengajarkan dialeknya. Menyikapi hal tersebut, tercetuslah inisiasi Kongres Bahasa Sasak yang sedang dirancang oleh budayawan dan seniman Sasak yang tergabung dalam Masyarakat Adat Sasak (MAS). Kongres ini diharapkan akan melahirkan satu kesepakatan berupa lahirnya satu dialek standar bahasa Sasak. Tantangan kedua yang dihadapi oleh penutur bahasa Sasak adalah pemerintah daerah belum menjadikan bahasa sebagai salah satu aspek yang ada dalam rencana pembangunan daerah.
Kasman lebih jauh menjelaskan bahwa Balai Bahasa Provinsi NTB telah melakukan analisis vitalitas bahasa Sasak. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa bahasa Sasak sudah mengalami pergeseran. Hal itu mengisyaratkan bahwa generasi muda dari tingkat SD—SMA sudah mulai enggan menggunakan bahasa Sasak dalam pergaulan sehari-hari. Oleh karena itu, Balai Bahasa Provinsi NTB telah melakukan revitalisasi bahasa Sasak sejak tahun 2022—sekarang. Kegiatan tersebut menunjukkan hasil revitalisasi yang cukup baik, terutama di kalangan pelajar SD dan SMP yang mulai mau belajar membaca puisi, bahkan menulis puisi bahasa Sasak, berpidato bahasa Sasak, menembang bahasa Sasak, dan kegiatan sejenisnya. "Kami berharap agar pelestarian dan perlindungan bahasa terus menjadi perhatian kita bersama karena bahasa Sasak adalah identitas yang melekat erat pada setiap individu orang Sasak," tutur Kasman saat menyampaikan informasi pada sesi diskusi pertemuan ini.