Dukungan dari Pemerintah Provinsi NTB: Kongres Bahasa Sasak sebagai Upaya Penguatan Pembelajaran Bahasa Daerah

Mataram, 10 Agustus 2026--Pelestarian bahasa Sasak menjadi salah satu tugas bersama yang terus diupayakan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Bersama Majelis Adat Sasak (MAS), kolaborasi kedua instansi terus diperkuat. Penguatan kolaborasi ini melahirkan rencana kegiatan Kongres Bahasa Sasak yang akan dihelat bulan Oktober 2026 sejalan dengan Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra. 

Berbagai upaya dukungan telah dilakukan dengan melibatkan unsur pemerintah daerah. Salah satu dukungan hadir dari Pemerintah Provinsi NTB. Melalui Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, Pemerintah Provinsi NTB menegaskan bahwa Kongres Bahasa Daerah adalah kegiatan yang merepresentasikan bukan hanya nilai budaya dan persatuan masyarakat Sasak, tetapi juga sebagai bentuk pewarisan pembelajaran bahasa Sasak ke generasi berikutnya. Menurutnya, pihak panitia harus memastikan kapan dilaksanakan, narasumber dari mana saja narasumbernya, peserta aktif, dan rumusan kegiatannya. Kegiatan ini selain karena adanya muatan pergeseran bahasa, metode pendidikan muatan lokal bahasa Sasak, lebih tepatnya ada klasifikasi penggunaan bahasa, hal ini sangat penting untuk menjadi pembelajaran bahasa Sasak, khususnya bagi anak-anak sekolah yang belum tentu menguasai bahasa Sasak.

Dalam pertemuan yang dilaksanakan di Ruang Kerja Wakil Gubernur NTB, Tim Balai Bahasa Provinsi NTB dan Majelis Adat Sasak berkesempatan menyampaikan aspirasi pelestarian bahasa daerah melalui satu kegiatan besar Kongres Bahasa Sasak. Wakil Gubernur juga mengutarakan bahwa masyarakat Lombok memiliki tokoh yang dapat dilibatkan menghadiri kegiatan ini sebagai bentuk dukungan. Ia menyampaikan bahwa Gubernur berharap kongres ini jauh dari kepentingan yang lain. Bahasa Sasak ini murni untuk dipahami dan menyangkut budaya serta diambil dari literatur yang ada agar tidak ada perbedaan pemahaman. Berbicara tentang generasi pembelajar, begitu juga para pendidik kita agar memahami hal ini," imbuhnya saat memberikan pandangan terkait urgensi pelaksanaan Kongres Bahasa Daerah dan relevansinya dengan pembelajaran bahasa Sasak di satuan pendidikan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keterlibatan semua pihak agar diutamakan. Pemerintah Provinsi NTB akan menindaklanjuti hal ini melalui organisasi perangkat daerah terkait. Ia yakin bahwa untuk tujuan pembelajaran generasi berikutnya pasti akan banyak yang ikut berkontribusi.

Hal tersebut sejalan dengan harapan dari Balai Bahasa Provinsi NTB. Nurcholis Muslim (Widyabasa Ahli Muda) yang mewakili Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB menjelaskan bahwa Balai Bahasa Provinsi NTB terus mengupayakan dukungan penguatan pelestarian bahasa daerah, terutama kolaborasi dari pemerintah daerah. Adanya pertemuan hari ini menunjukkan semangat bersama dalam menjaga, merawat, melindungi, serta melestarikan bahasa Sasak. Kolaborasi yang terjalin dengan Majelis Adat Sasak berpijak dari satu niat yang sama. Seperti yang diutarakan oleh Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan bahwa mencermati kehidupan di NTB, khususnya di Lombok yang kesehariannya menggunakan bahasa Sasak di mana penuturnya sekitar 3,8 juta. Akhir-akhir ini penggunaan bahasa Sasak mengalami degradasi. Hal inilah yang menjadikan kami merasakan keresahan bagaimana upaya untuk menyelamatkan persoalan menurunkan derajat bahasa ini kita selesaikan bersama. "Penggunaan sebutan dalam suku Sasak terkait warisan kesukuan yang sekarang mulai hilang penggunaannya. Dengan pemikiran-pemikiran semacam itu, Majelis Adat Sasak bersama Balai Bahasa Provinsi NTB telah mengajak para tokoh intelektual untuk diskusi bersama. Mohon dukungan dari pemerintah daerah terkait pelaksanaan Kongres Bahasa Sasak ini," tutur Lalu Sajim.

Berdasarkan penjelasan Ketua Panitia, Chaerul Anwar, bahwa panitia telah memaksimalkan proses berbagai tahapan. Konsep kegiatan fokus pada inklusivitas yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Sasak. "Kami ingin suku Sasak tidak kehilangan muruahnya. Kami akan membantu pembelajaran bahasa Sasak tingkat sekolah dasar sampai menengah atas melalui modul buku ajar bahasa Sasak. Kami juga mendorong pemerintah daerah mengeluarkan Pergub untuk mengawal kebijakan ini," jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Asisten I (Fathul Gani) yang hadir pada pertemuan ini menegaskan tiga hal utama, yaitu dukungan pemerintah daerah, dukungan anggaran, dan momentum penguatan bahasa Sasak. Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Syamsul Hadi) menyampaikan bahwa satuan pendidikan siap mendukung dan mengawal proses pembelajaran muatan lokal bahasa Sasak. Begitu juga dengan Kepala Dinas Kebudayaan (Muhammad Ihwan). Ia mengutarakan bahwa bahasa menjadi salah satu objek produk pemajuan kebudayaan. Untuk itu, penting adanya kegiatan Kongres Bahasa Sasak ini sebagai upaya pelestarian bahasa Sasak yang sejalan dengan nilai-nilai kebudayaan.