Urgensi Pengelolaan Pemanfaatan Buku Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kemendikdasmen

Lombok Timur, 19 Agustus 2026--Dalam upaya meningkatkan kecakapan literasi dan numerasi murid, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa resmi mengirim buku Gerakan Literasi Nasional (GLN) ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat. Buku GLN ini menyasar satuan pendidikan yang perlu dibantu berdasarkan pada hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Tahun 2025 dengan mengutamakan satuan pendidikan SD dan SMP yang hasil ANBK 2025 untuk aspek literasi masih rendah (kategori 1). Menilik hal tersebut, Balai Bahasa Provinsi NTB bergerak untuk melakukan pemantauan pemanfaatan distribusi buku GLN yang menjangkau wilayah Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa bersama tim berkesempatan memantau langsung dua sekolah di Kabupaten Lombok Timur dan satu sekolah di Kabupaten Lombok Tengah yang menerima bantuan hibah buku GLN dari Badan Pemgembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen. Sasaran sekolah pertama di Kabupaten Lombok Timur, yaitu SDN 2 Pengadangan. Tim Balai Bahasa Provinsi NTB didampingi Kepala SDN 2 Pengadangan, Hj. Zuraidah meninjau lokasi perpustakaan yang berfungsi ganda menjadi ruang kepala sekolah. Berdasarkan temuan di lapangan, buku-buku GLN baru dikeluarkan dari kotak dan sedang dalam proses penertiban adminitrasi sekolah. Melihat hal tersebut, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB menyampaikan bahwa pihak sekolah harus proaktif dalam memanfaatkan bantuan berharga ini. "Kami tentu saja berharap bahwa sekolah dapat mengelola dan memanfaatkan buku bantuan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen dengan cermat dan bijaksana. Buku-buku yang telah diterima agar segera dirapikan, dikelola, dan dimanfaatkan dalam proses belajar murid SDN 2 Pengadangan. Saya berharap peran sekolah untuk aktif berkonsultasi jika ada kendala dalam memanfaatkan buku-buku ini. Balai Bahasa Provinsi NTB siap mendampingi pengelolaan literasi sekolah. Saya rasa hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama agar pemanfaatan buku GLN tepat sasaran untuk meningkatkan literasi sekolah," tandas Arie saat mengunjungi ruang perpustakaan SDN 2 Pengadangan.

Adapuan kendala yang ditemukan adalah fungsi ganda ruang perpustakaan yang kini menjadi ruang kepala sekolah karena keterbatasan ruang kelas belajar. Terdapat enam kelas sementara untuk menampung jumlah murid demi proses belajar mengajar agar tidak terganggu. Selain itu, berdasarkan lenuturan Kepala SDN 2 Pengadangan, pihak sekolah masih kesulitan dalam memanfaatkan buku-buku GLN dengan metode pengajaran yang tepat untuk murid dan masih kurangnya pengetahuan literasi sekolah, khususnya tenaga pendidik. Untuk itu, pihak sekolah membutuhkan bantuan pendampingan dari Balai Bahasa Provinsi NTB.

Kendala yang sama ditemui juga di SDN 1 Pengadangan Barat yang lokasi sekolahnya tidak jauh dari SDN 2 Pengadangan. Kedua sekolah tersebut menerima bantuan buku GLN berdasarkan hasil ANBK 2025 yang masih rendah. Kepala SDN 1 Pengadangan Barat, Marsudin mengaku bahwa pihak sekolah telah merapikan buku-buku yang diterima, tetapi belum maksimal dalam pemanfaatannya. Hal tersebut terlihat dari pemanfataan buku-buku GLN yang masih terpajang di rak-rak perpustakaan. Dari segi fasilitas, SDN 1 Pengadangan Barat telah menerima manfaat program Revitalisasi Sekolah dari Kemendikdasmen sehingga kendala fasilitas tidak menjadi catatan. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB memberikan praktik awal pemanfaatan buku dengan mengajak murid kelas VI untuk membaca buku-buku GLN yang telah disiapkan. Kemudian, perwakilan murid diminta untuk menceritakan ulang hasil buku yang telah mereka baca berdasarkan jenjang buku. Ada hal yang menjadi catatan peningkatan literasi sekolah ke depannya adalah pembiasaan murid untuk membaca buku literasi di jam tertentu, dorongan motivasi, dan pendampingan membaca dari guru. Hal ini untuk meningkatkan kemampuan dan semangat membaca buku. Apalagi saat ini sekolah telah mendapatkan fasilitas gedung baru dan bantuan buku GLN dari Kemendikdasmen. Perwakilan murid yang tampil menceritakan buku GLN yang dibaca adalah Aliza. Ia menceritakan ulang buku berjudul "Meti Kei".

Beranjak dari Kabupaten Lombok Timur, tim menjangkau SDN 2 Montong Gamang, Kabupaten Lombok Tengah. Ada harapan baik yang ditemukan ketika tim meninjau proses belajar murid kelas VI. Dari 13 murid, rata-rata murid telah membaca dengan lancar dan memahami isi buku bahan bacaan yang dibagikan oleh Balai Bahasa Provinsi NTB. Buku-buku GLN dibagikan satu-persatu dan dibaca sesuai dengan kemampuan masing-masing murid.

Alfira dan Gilang menjadi perwakilan murid yang tampil menceritakan ulang buku yang telah selesai dibaca. Mereka berdua menceritakan isi cerita dari awal sampai akhir dengan lancar dan percaya diri. Hal ini menjadi catatan positif bahwa kemampuan membaca sudah terlihat dengan baik. Catatan di lapangan ini juga berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas, Yulia Sulpani. Ia menuturkan bahwa ia melakukan pembiasaan membaca buku 5--10 menit setiap pagi sebelum memulai pembelajaran berdasarkan jadwal dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah. Adapun hal yang harus segera dilaksanakan adalah pengolahan dan pemanfaatan buku GLN untuk murid. Menurut Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, hal ini bersifat darurat atau urgensi karena tujuan dari hibah buku ini untuk meningkatkan kemampuan literasi murid. Untuk itu, ia mengimbau pihak sekolah agar segera melakukan tindak lanjut pemanfaatan buku.