Supervisi Pemetaan Bahasa dan Sastra di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Mataram, 21 Agustus 2026—Tim dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra (Pusbanglin) melakukan Supervisi Kegiatan Pelindungan Bahasa dan Sastra melalui Verifikasi Data Pemetaan Bahasa dan Sastra di Balai Bahasa Provinsi NTB. Kegiatan supervisi dilakukan selama tiga hari, yaitu pada 19—21 Agustus 2026.

Tim dari Pusbanglin mengecek, memverifikasi, dan mengevaluasi jalannya pengumpulan data pemetaan bahasa dan sastra. Dalam pelaksanannya, verifikasi dan evaluasi dipandu oleh tim ahli. Untuk pemetaan sastra, tim ahilnya dalah Prof. Yoseph Yapi Taum sedangkan pemetaan bahasa adalah Prof. Multamia Lauder.

Dalam pemetaan sastra, tim berhasil mengumpulkan data tetaer rakyat Cupak Gerantang di Lombok Utara, tradisi memaos di Lombok Barat, dan tradisi bekayat di Lombok Tengah. Prof. Yapi Taum mengapresiasi kerja tim pemetaan sastra Balai Bahasa Provinsi NTB. “Data yang disajikan sudah lengkap dan kualitas rekaman audiovisualnya pun memanjakan mata,” begitu ujarnya.

Untuk pemetaan bahasa, tim sekaligus berkonsultasi dengan Prof. Multamia Lauder terkait temuan bunyi yang sulit diidentifikasi penulisan fonetisnya. Temuan tersebut ada di dua titik pengamatan, yaitu Desa Sori Tatanga, Kabupaten Dompu dan Desa Oi Panihi, Kabupaten Bima. Bunyi tersebut ditandai dengan abjad [B], [D], dan [W] .

“Teman-teman dari NTB telah menemukan bunyi yang unik karena bunyinya termasuk bunyi implosif yang jarang ditemukan di bahasa-bahasa dunia. Jadi, bunyi B] ditulis [?]; [D] ditulis [?]; dan [W] ditulis [β],” ujar Multamia saat memberikan apresiasinya.

Saat menutup kegiatan, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, berpesan ke Tim Pemetaan Bahasa dan Sastra. “Terkait temuan dan rekomendasi dari Tim Pusbanglin, saya harap rekan-rekan dapat segera menindaklanjutinya agar data yang telah kita kumpulkan dan olah terjaga kualitasnya dan dapat menjadi input yang baik bagi Peta Kebinekaan,” pesannya.