Kolaborasi IGI NTB dan Balai Bahasa Provinsi NTB dalam Bimbingan Teknis Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia
Mataram, 27 Agustus 2026—Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Nusa Tenggara Barat berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi NTB dalam menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) pada 27–28 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti oleh kurang lebih 100 peserta dari kalangan pendidik. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kompetensi kebahasaan guru sekaligus memperkuat literasi melalui stimulasi kemahiran berbahasa Indonesia.
Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Wilayah IGI Provinsi NTB, Nengah Istiqomah. Dalam laporannya, Nengah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi untuk memberikan penguatan kepada guru dalam aspek kebahasaan dan pengenalan UKBI. Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi karena aktivitas membaca, menulis, memahami informasi, serta menyampaikan gagasan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan berbahasa.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap guru tidak hanya mengenal UKBI sebagai sebuah instrumen pengukuran kemahiran berbahasa, tetapi juga dapat memanfaatkannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan berbahasa dan literasi di sekolah,” ujar Nengah.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, Arief Nuradhi Herutomo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai peningkatan kemampuan berbahasa guru akan memberikan dampak terhadap kualitas komunikasi dan pembelajaran di sekolah.
"Kemampuan berbahasa menjadi fondasi dalam proses pendidikan. Guru yang memiliki kemahiran berbahasa akan lebih mudah menyampaikan gagasan, membangun komunikasi yang efektif, dan menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu, kegiatan yang memberikan penguatan terhadap kemampuan bahasa guru seperti ini perlu terus didorong,” tutur Arief.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Ari Andarasyah Isa dalam sambutannya menekankan bahwa UKBI dapat menjadi sarana untuk mengetahui tingkat kemahiran berbahasa Indonesia sekaligus mendorong seseorang untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasanya. “UKBI bukan sekadar tes untuk mendapatkan nilai atau predikat kemahiran berbahasa. UKBI dapat menjadi cermin bagi kita untuk mengetahui kemampuan berbahasa yang sudah dimiliki dan aspek yang masih perlu ditingkatkan. Dari hasil tersebut, kita dapat melakukan pembelajaran dan pengembangan kompetensi secara lebih terarah,” jelas Ari.
Menurut Ari, pengenalan UKBI kepada guru memiliki nilai strategis karena guru dapat meneruskan pemahaman tersebut kepada peserta didik. Dengan demikian, UKBI tidak hanya berhenti sebagai instrumen pengukuran, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem pengembangan kemahiran berbahasa dan literasi di satuan pendidikan.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi NTB, Samsul Hadi. Dalam sambutannya, Samsul menekankan bahwa peningkatan literasi harus dilakukan melalui berbagai stimulasi yang dapat mendorong peserta didik dan pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa. Salah satu stimulasi tersebut adalah pengenalan dan pemanfaatan UKBI.“Literasi tidak hanya berbicara tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memahami informasi, mengolahnya, berpikir, kemudian menyampaikan kembali gagasan tersebut dengan baik. Semua itu membutuhkan kemampuan berbahasa. Oleh karena itu, UKBI dapat menjadi salah satu stimulasi untuk mendorong peningkatan kemahiran berbahasa sekaligus memperkuat literasi,” ujar Samsul.
Ia menjelaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya literasi. Guru yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk membaca lebih banyak, memahami informasi secara kritis, menulis, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat.
“Kita ingin literasi menjadi sebuah budaya, bukan sekadar kegiatan. Untuk membangun budaya itu, kita perlu memberikan stimulasi yang berkelanjutan. UKBI dapat menjadi salah satu instrumen yang memberikan motivasi kepada guru dan peserta didik untuk mengetahui kemampuan berbahasanya, kemudian berusaha meningkatkannya,” lanjutnya.
Samsul juga mengapresiasi kolaborasi antara IGI Wilayah NTB dan Balai Bahasa Provinsi NTB. Menurutnya, sinergi antara organisasi profesi guru dan lembaga yang memiliki tugas di bidang kebahasaan merupakan langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan di NTB. “Saya mengapresiasi kolaborasi ini. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Diperlukan kolaborasi dengan organisasi profesi, lembaga kebahasaan, dan satuan pendidikan. Semakin banyak guru yang memiliki kemahiran berbahasa dan kesadaran literasi yang baik, semakin kuat pula fondasi pendidikan kita,” ungkapnya.
Sebagai wujud nyata dari komitmen untuk melanjutkan sinergi tersebut, kegiatan juga dirangkaikan dengan penandatanganan Pelaksanaan Kerja Sama antara IGI Wilayah NTB dan Balai Bahasa Provinsi NTB. Penandatanganan kerja sama menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama dalam pelaksanaan berbagai program di bidang kebahasaan, literasi, dan pengembangan kompetensi guru.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan bimbingan teknis, tetapi dapat berkembang melalui berbagai kegiatan yang mendukung peningkatan kompetensi pendidik dan penguatan literasi di satuan pendidikan. Kolaborasi ini juga menjadi bentuk sinergi antara organisasi profesi dan lembaga kebahasaan dalam menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan guru dan peserta didik.
Setelah pembukaan dan rangkaian penandatanganan kerja sama, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber. Materi yang diberikan meliputi ejaan, kalimat, paragraf, bentuk dan pilihan kata, serta praktik pengenalan UKBI. Materi tersebut dirancang untuk memberikan penguatan terhadap aspek-aspek dasar penggunaan bahasa Indonesia sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengenal UKBI.
Pada sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan bentuk dan karakteristik UKBI serta diberikan kesempatan untuk mencoba mengerjakan contoh-contoh soal. Praktik tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoretis, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana kemampuan berbahasa dapat diukur melalui UKBI.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Sekitar 100 peserta aktif mengikuti pemaparan materi, berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan mengikuti praktik pengenalan UKBI. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi stimulasi bagi peserta untuk terus meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia dan selanjutnya menerapkan pengetahuan tersebut dalam proses pembelajaran.
Kolaborasi IGI Wilayah NTB dan Balai Bahasa Provinsi NTB melalui bimbingan teknis dan penandatanganan kerja sama menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem kebahasaan dan literasi di lingkungan pendidikan. UKBI diharapkan tidak hanya dipahami sebagai alat ukur kemahiran berbahasa, tetapi juga sebagai stimulus untuk mendorong kebiasaan membaca, menulis, memahami informasi, berpikir kritis, dan berkomunikasi secara efektif. Dengan adanya komitmen kerja sama yang dituangkan melalui penandatanganan kerja sama, penguatan kemahiran berbahasa dan budaya literasi di NTB diharapkan dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak pendidik serta satuan pendidikan.