Pengelolaan Buku GLN Kemendikdasmen Harus Dimanfaatkan

Lombok Tengah, 8 September 2026--Literasi tidak hanya sekadar membaca dan menulis. Melalui program prioritas literasi, Balai Bahasa Provinsi NTB terus mengupayakan pendampingan literasi yang menyasar sekolah dasar dan menengah. Upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan dan evaluasi pemanfaatan buku Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang didistribusikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sasaran pemantauan hari ini adalah Kabupaten Lombok Tengah dengan dua lokasi sekolah penerima bantuan hibah buku GLN dari Kemendikdasmen.

Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa bersama tim mengunjungi dua lokasi sekolah, yaitu SDN Dasan Baru dan SDN Tampar-Ampar. Kunjungan pertama menyasar SDN Dasan Baru. Tim diterima oleh Kepala SDN Dasan Baru, Lalu Sulaiman. Tim bergerak memastikan bahwa buku-buku GLN telah diterima dengan baik. Sebanyak 200 eksemplar buku ditemukan masih dalam kondisi dalam kardus dan belum dimanfaatkan. Hal ini memantik keingintahuan kendala yang dialami sekolah. Arie menyampaikan bahwa buku-buku tersebut harus segera dikelola dan dimanfaatkan untuk bahan pembelajaran murid. Terdapat tiga jenjang buku, yaitu kategori B-1 (kelas I--II SD), kategori B-2 (kelas III--IV SD), dan kategori B-3 (kelas V--VI SD).

"Buku-buku ini harus segera dimanfaatkan dengan baik untuk pembelajaran siswa. Jadi, begitu sekolah mendapatkan bantuan buku, seharusnya sekolah sudah langsung mengelola dan memanfaatkan buku-buku ini sebagai tambahan pembelajaran literasi bagi siswa. Bapak dan Ibu guru bisa mengajak murid untuk membaca buku cerita ini setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai untuk memantik semangat dan pembiasaan membaca buku cerita," jelasnya menyampaikan arahan sekaligus pesan ketika meninjau buku-buku GLN di SDN Dasan Baru.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SDN Dasan Baru, Lalu Sulaiman mengungkapkan bahwa kondisi sekolah sangat membutuhkan buku-buku GLN ini, terutama murid kelas I--III. Ia mengakui bahwa pihak sekolah belum mengelola dan memanfaatkan buku-buku dengan maksimal karena keterbatasan pengetahuan dalam pemanfaatan buku tersebut. Menurutnya, dengan adanya pemantauan langsung dari Balai Bahasa Provinsi NTB dapat membantu pihak sekolah dalam hal pemanfaatan buku pembelajaran literasi.

Tim Balai Bahasa Provinsi NTB mengajak 17 murid kelas VI untuk membaca 10 buku cerita GLN. Salah seorang siswa, Hadi membaca cerita berjudul "Kabayan Jadi Robot" karya Ina Inong. Menurut penuturan Hadi, buku cerita tersebut menarik, baik dari segi isi cerita maupun visualisasi desain.

Berikutnya, tim mengunjungi SDN Tampar Ampar, Praya. Tim bertemu dengan Kepala SDN Tampar-Ampar, Wildan. Hal yang sama juga ditemukan bahwa buku-buku GLN belum dimanfaatkan dengan maksimal. Salah seorang guru kelas menuturkan bahwa baru beberapa buku saja yang telah digunakan dalam proses pembelajaran siswa. Hal ini tentunya menjadi catatan Balai Bahasa Provinsi NTB untuk menindaklanjuti pendampingan pemanfaatan buku GLN ke sekolah-sekolah yang telah mendapatkan bantuan buku. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB berdiskusi langsung dengan Kepala SDN Tampar-Ampar. Ia menitikberatkan bahwa pemanfaatan buku GLN harus segera dilaksanakan oleh sekolah, terutama oleh guru-guru sebagai bahan pembelajaran literasi siswa. "Pihak sekolah harus memastikan bahwa buku-buku ini dikelola dengan baik dan murid memanfaatkan buku-buku ini sebagai pembelajaran literasi mereka," tegas Arie.