Penguatan Literasi Bahasa Daerah Melalui Siaran Bahasa dan Sastra di TVRI NTB

Mataram, 24 April 2024--Literasi dan pelindungan bahasa dan sastra daerah merupakan program unggulan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam proses pelaksanaannya, Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat secara aktif terus membangun kemitraan dengan berbagai mitra, salah satunya TVRI NTB. Hal ini dilakukan melalui diseminasi dan kolaborasi informasi siaran kebahasaan dan kesastraan.

Pada acara siaran Antarnusa TVRI NTB, staf Widyabasa Ahli Muda, Kasman, berkesempatan menjadi narasumber kegiatan dengan tema Literasi Bahasa Daerah. Ia berkolaborasi dengan Ketua Yayasan Pemaos Sabda Jati (Yayasan Pesaja), Zul Padli yang turut serta menyampaikan perkembangan literasi bahasa daerah di Nusa Tenggara Barat. Pada kesempatan terpisah, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Puji Retno Hardiningtyas, menyatakan apresiasi dan dukungan atas terselenggaranya kegiatan yang diinisiasi oleh TVRI NTB. Jalinan kemitraan yang baik akan memberikan nilai tambah dan dampak positif untuk berbagai program kebahasaan dan kesastraan.

Dalam acara siaran ini, Kasman menjelaskan bahwa bahasa daerah merupakan salah satu program Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang terus diupayakan bersama. Setiap tahun Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat mengupayakan penertiban bahasa Indonesia dan memperkuat bahasa daerah, terutama di ruang publik. Andil Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat berperan besar di NTB.

"Salah satu contoh adalah penulisan papan nama di ruang publik. Seharusnya kita menerapkan Trigatra Bangun Bahasa. Penulisan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan baru bahasa asing. Dalam arti bahwa kita mengutamakan dan mengangkat penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah," jelas Kasman memulai siaran di Halaman TVRI NTB (24/4).

Menurutnya, jika berbicara eksistensi bahasa daerah maka sebenarnya bahasa daerah baru menggeliat di NTB sejak tahun 2022. Hal ini terjadi semenjak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa meluncurkan program ini. Di NTB ada tiga bahasa daerah mayoritas, yaitu bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo.

"Pada tahun 2006, kami pernah menyusun materi muatan lokal bahasa daerah. Akan tetapi, karena adanya berbagai kendala, pelaksanaannya sempat terhenti. Dengan adanya program prioritas, hal ini menjadi arah dan pedoman baru bagi kami untuk menguatkan bahasa daerah," lanjutnya menjelaskan proses lahirnya program bahasa daerah. Sementara itu, Zul Padli selaku narasumber pada acara ini juga menyampaikan bahwa memang ada indikasi penggunaan bahasa daerah tergerus oleh gempuran penggunaan bahasa asing. Akan tetapi, tugas penguatan bahasa daerah juga telah diupayakan oleh Yayasan Pesaja melalui berbagai kegiatan seni dan budaya bahasa Sasak.

"Dalam pembelajaran bahasa daerah, memang ada beberapa hal yang terkadang kami tidak mengerti maknanya. Ini yang terus kami pelajari menggunakan metode pembelajaran bahasa daerah. Salah satu upaya yang kami lakukan ke generasi muda melalui pendekatan seni dan budaya," ujar Zul Padli menjelaskan pembelajaran bahasa daerah melalui metode pembelajaran yang menyasar generasi muda.

Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa halus dalam bahasa daerah juga sangat penting. Misalnya, dalam penggunaan tembang. Di sini pentingnya mempelajari bahasa halus melalui komunitas sanggar seni yang mendukung penggunaan bahasa daerah.

Selanjutnya, Kasman menambahkan bahwa peran Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah melakukan analisis vitalitas bahas daerah. Hal ini terkait posisi dan pemertahanan bahasa daerah. Setelah itu, program Revitalisasi Bahasa Daerah diluncurkan sebagai metode baru untuk menguatkan peran bahasa daerah melalui Episode Merdeka Belajar ke-17.

"Berbagai tahapan Revitalisasi Bahasa Daerah telah kami lakukan sejak tahun 2022. Tahapan tersebut mulai dari Rapat Antarkoordinasi dengan Pemangku Kepentingan, DKT Penyusunan Model Pembelajaran Bahasa Daerah, Pelatihan Guru Master, Pengimbasan Bahasa Daerah, dan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Tim dari Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat akan mendampingi pemenang I FTBI NTB ke Jakarta pada tanggal 1--5 Mei 2024 untuk mengikuti kegiatan FTBIN Nasional yang akan dihadiri oleh Mendikbudristek," tandasnya.

Penguatan literasi bahasa daerah tidak hanya menjadi tugas Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kasman menegaskan bahwa tugas ini merupakan tugas bersama yang diperkuat dengan dukungan dan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Sebagai pelaksana, Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mengawal dan melaksanakan program ini sejak tahun 2022 dan tetap berkomitmen untuk menggandeng pemerintah daerah dalam menyukseskan program ini.