Uji Instrumen Survei Kebermanfaatan Kamus Terpadu, Kantor Bahasa Sasar Sekolah Mataram, Kab. Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Barat

Lombok, 31 Mei 2024--Sebagai bagian dari tahapan pengembangan program Kamus Terpadu Bahas Daerah (Sasak, Samawa, dan Mbojo)-Bahasa Indonesia-Bahasa Isyarat-Aksara Braille, Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat memperluas lokasi uji instrumen di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Barat. Uji Kebermanfaatan di Kota Mataram dilakukan di SLBN 2 Mataram dan SMPN 13 Mataram; Uji Kebermanfaatan di Lombok Tengah dilakukan di SLBN 1 Lombok Tengah, SMAN 1 Praya, dan SMPN 2 Praya; dan Uji Kebermanfaatan di Kabupaten Lombok Barat dilakukan di SLBN 1 Lombok Barat, SLBN 2 Lombok Barat, dan SMAN 1 Gerung.

Uji instrumen survei kebermanfaatan dan kebutuhan kamus terpadu ini tidak hanya untuk mengetahui penilaian kebutuhan sasaran, tetapi juga merupakan pedoman dalam pengembangan kamus terpadu ke depannya. Kepala SLBN 1 Lombok Tengah, H. Sahrin, menyatakan bahwa pengembangan kamus terpadu ini merupakan program yang diharapkan dan ditunggu-tunggu selama ini. Bukan hanya sebagai sekadar program, tetapi manfaatnya dapat berdampak untuk siswa disabilitas di dunia pendidikan.

"Program pengembangan ini sudah saya tunggu-tunggu. Saya berharap program ini bersifat jangka panjang, dalam arti dapat diteruskan dan manfaatnya dirasakan oleh siswa-siswa kami yang disabilitas. Selain itu, guru sebagai tenaga pendidik kami di sekolah juga dapat terbantu," ujarnya mengungkapkan harapan jangka panjang terkait program pengembangan yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat di Aula SLBN 1 Lombok Tengah.

Uji survei ini menyasar masing-masing 20 siswa dan lima guru sebagai responden di setiap sekolah. Setiap responden mengisi pertanyaan instrumen yang mewakili keseluruhan materi kamus terpadu. Dukungan berikutnya hadir dari SMPN 2 Praya. Sebanyak lima guru mengungkapkan dukungan akan kebutuhan kamus. Apalagi kamus terpadu yang akan dikembangkan merupakan gabungan dari berbagai kamus dengan sasaran yang beragam.

"Saya antusias dan tertarik mengenai program ini. Kami sangat membutuhkan kamus sebagai salah satu bahan ajar kami kepada siswa. Selama ini kami masih kekurangan materi kamus yang bisa menjadi pegangan bagi guru dalam mengajar," tutur Nuning Andriani, guru bahasa Indonesia SMPN 2 Praya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Maemunah, guru SMAN 1 Praya. Ia berharap dengan adanya program kamus terpadu ini dapat menjadi penjembatan kekurangan materi atau bahan ajar bagi siswa. Selain itu, kamus ini dapat dijadikan referensi pembelajaran siswa dan guru.

"Program ini termasuk baru bagi kami. Kami tentunya mendukung dan berharap bahwa program ini dapat terwujud dan manfaatnya dapat dirasakan oleh siswa dan kami sebagai guru sekolah," tandasnya menyampaikan harapan adanya program ini.

Di Kota Mataram, pelaksanaan Uji Kebermanfaatan juga didukung penuh oleh SMPN 13 Mataram dan SLBN 2 Mataram. Kepala SLBN 2 Mataram, Winarno, menyatakan masih ada guru yang tidak mampu menggunakan bahasa isyarat. Untuk itu, kamus yang dihasilkan nanti dapat dimanfaatkan oleh guru-guru tersebut sebagai jembatan komunikasi dan bahan belajar.

"Kami rasa akan sangat efektif bila memang kamus ini dibuat dalam bentuk digital. Selama ini, kamus isyarat ada dalam bentuk cetak. Wujudnya tebal. Sulit dibawa-bawa. Kamus dalam bentuk digital, apalagi bergambar, juga bisa menarik hati anak-anak yang ingin belajar isyarat," Agung, salah seorang guru senior di SLBN 2 Mataram memberikan kesan atas inovasi kamus terpadu ini.

Agus, seorang siswa kelas 8 dari SMPN 13 Mataram juga merasa bahwa Kamus Terpadu yang diinisiasi oleh Kantor Bahasa akan sangat membantunya. Terlebih, sekolahnya merupakan sekolah inklusi sehingga SMPN 13 juga memiliki siswa penyandang disabilitas.

Selanjutnya, Uji Kebermanfaatan dan Kebutuhan di Kabupaten Lombok Barat berlangsung dengan lancar. Sebanyak 60 siswa dan 15 guru menjadi peserta dalam kegiatan di Lombok Barat. Tim Uji di SLBN 2 Lombok Barat diterima langsung oleh Zikril Hakim (Waka Humas) dan Syafira Septiana (Guru SLBN 2 Lombok Barat).

Menurut Syafira, pengembangan inovasi kamus ini dapat bermanfaat secara praktis bagi pengajar dan siswa, "Sebelumnya, SLBN 2 telah mendapatkan buku cerita anak dengan aksara Braille yang telah diterbitkan oleh Kantor Bahasa dan telah kami manfaatkan untuk bahan bacaan bagi siswa kami, dengan adanya pengembangan kamus ini, kami berharap dapat memudahkan kami dalam memberikan pengajaran kepada siswa. Selain itu, kamus ini juga dapat digunakan oleh siswa sekolah reguler untuk dapat belajar dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat," pungkasnya.