Penilaian Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA/SMK/MA Se-Provinsi NTB

Mataram, 11 Juni 2024—Festival Musikalisasi Digital Puisi Tingkat SMA/MA/SMK Se-Provinsi Nusa Tenggara Barat telah sampai pada tahap penilaian. Sebanyak 15 tim yang telah mendaftarkan diri dan mengirimkan karya berlaga dalam tahap ini untuk memperebutkan predikat Pemenang I--III dan Pemenang Favorit.

Dr. Puji Retno Hardiningtyas, S.S., M.Hum. menyempatkan hadir secara berani untuk membuka kegiatan. “Kami yakin betul para peserta yang telah mengirimkan karya adalah pemenang yang berhasil mengapresiasi sastra dalam bentuk musik, lepas dari siapa pun yang akan mewakili NTB di tingkat nasional nanti. Semuanya sudah berjuang. Semoga Nusa Tenggara Barat dapat menorehkan hasil yang memuaskan,” Puji Retno memberi semangat. Ia menambahkan bahwa inti dari rangkaian Festival Musikalisasi Puisi ini adalah peningkatan gairah sastra di kalangan remaja. Ia berharap hasilnya bukan hanya soal kalah menang, melainkan seberapa besar dorongan yang diberikan bagi siswa untuk terus berkarya di bidang sastra.

Pada tahap penilaian ini, hadir tiga penilai yang juga merupakan narasumber kegiatan Bengkel Sastra Musikalisasi Puisi pada Maret lalu. Penilai ketiga tersebut adalah Kiki Sulistyo, Ary Juliant, dan Eko Wahono. Ketiganya melakukan penilaian sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan dalam petunjuk teknis. “Bobot penilaian pemahaman puisi yang paling besar. Kalau diperhatikan, masih banyak yang secara pemenggalan saja sudah kurang tepat. Namun, ada yang sangat akurat,” Tutur Kiki Sulistyo. Sebagai penyair, Kiki merasa penciptaan makna puisi jadi unsur yang krusial. Hal ini pula yang selalu ia tekankan selama proses pembekalan melalui Bengkel Sastra.

Proses penilaian dilakukan dengan memutarkan karya yang telah dikirimkan oleh peserta. Setiap peserta wajib memusikalisasikan dua buah puisi. Puisi pertama adalah puisi wajib berjudul "Tusuk Gigi" karya Soni Farid Maulana. Sementara itu, puisi pilihan dipilih dari sepuluh puisi yang telah disiapkan oleh panitia dengan tema Cerita Bumi. Pemberian nilai dilakukan setelah dua puisi dari setiap peserta ditayangkan.

Selepas penilaian yang dilakukan satu orang terhadap karya peserta, dilakukan rapat juri untuk menelaah kesesuaian karya dengan petunjuk teknis. "Tidak ada karya yang sempurna. Setiap karya pasti bercelah. Namun, ada hal-hal yang esensial dan paling menguatkan peserta. Contohnya adalah penghayatan, keunikan, dan keselarasan antaranggota tim. Hal-hal semacam ini tidak boleh luput dari penilaian," Eko Wahono menjelaskan.

Ary Juliant sebagai musisi folk lebih banyak menyoroti dari penggunaan instrumen dan aransemen puisi. Ia melihat eksplorasi yang dilakukan oleh peserta di tahun ini semakin beragam. "Ada yang menggunakan perkakas rumah tangga dan ini unik. Hanya saja, kepercayaan diri yang perlu ditingkatkan lagi. Selain itu, penggunaan alat-alat semacam ini juga perlu diperhatikan keselarasannya. Jangan sampai ia hanya sebagai tempelan dan dihadirkan dengan interpretasi yang naif," tegasnya. Ia mengapresiasi langkah-langkah berani yang dilakukan oleh peserta dalam mengalihwahanakan puisi.

Penilaian ini akan menghasilkan berita acara pemenang dengan menampilkan kategori Pemenang I, II, dan III. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 12 Juni 2024 melalui media sosial Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, Pemenang Favorit akan ditentukan dengan jumlah penyuka dan komentar dari video yang diunggah di akun YouTube Kantor Bahasa NTB hingga 18 Juni 2024.