Kantor Bahasa Provinsi NTB Ambil Peran dalam Meningkatan Literasi Digital Siswa dan Guru SMAN 1 Sekotong Melalui UKBI

Mataram, 14 Juni 2024-- Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat berkesempatan mengisi kegiatan Sosialisasi UKBI (Literasi Digital) untuk Guru dan Siswa SMAN 1 Sekotong. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan SMAN 1 Sekotong untuk meningkatkan kemampuan literasi digital siswa dan guru dalam hal kemahiran berbahasa Indonesia. Tiga orang staf teknis Kantor Bahasa Provinsi NTB hadir sebagai narasumber, yakni Nurcholis Muslim, Desi Rachmawati, dan Lentera Nurani Setra. 

Masing-masing narasumber memberi materi secara bergantian. Nurcholis memberi materi terkait literasi digital secara umum dan kiat memanfaatkan fasilitas digital dalam peningkatan literasi. Ia menyebutkan paling tidak ada tiga tantangan yang kini dihadapi oleh siswa dan guru dalam bersosialisasi melalui akses digital, yakni paparan konten berbahaya, kecanduan teknologi, serta privasi dan keamanan. "Teknologi ini pisau bermata dua. Kalau tidak bijak dalam menggunakannya, teknologi akan lebih banyak mendatangkan masalah daripada menjadi solusi," Nurcholis mengingatkan. Ia kemudian menguraikan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menghindari itu semua, terutama saat menggunakan bahasa dalam media sosial. 

Tidak hanya memberi kiat agar aman dalam bermedia sosial, Nurcholis juga memberi contoh cara agar siswa dan guru mampu memanfaatkan teknologi untuk menjadi bahan belajar yang sehat. "Yang paling mudah adalah dengan menjadikan teknologi sebagai alat mengekspresikan diri untuk hal-hal positif, misalnya membuat konten media pembelajaran dan menjadikan apa yang dapat dilihat anak di media sosial sebagai bahan belajar."

Desi Rachmawati melanjutkan materi dengan membuka hasil Uji Kemahiran Berbahasa Siswa SMAN 1 Sekotong. Pada tanggal 8 Juni lalu, telah dilaksanakan pengujian UKBi yang menyasar 200 siswa kelas 10 dan 11. Hasil UKBI telah didapatkan sehingga data ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi pembelajaran siswa. "Sejauh ini hanya satu siswa yang mendapat predikat Unggul. Kira-kira mengapa satu anak ini mendapat nilai yang lebih baik dari yang lain? Inilah yang harus kita ketahui dan pelajari agar hasil yang sama dapat diperoleh siswa lainnya," tuturnya. Desi menelaah lebih jauh hasil tersebut untuk menjelaskan kepada guru bagaimana perlakuan yang mesti dilakukan untuk siswa dalam masing-masing predikat.

Materi terkait masing-masing seksi uji diberikan oleh Lentera sebagai anggota KKLP UKBI. Hasil UKBI siswa menunjukkan seksi Mendengarkan memiliki rata-rata terendah dibanding dua seksi lainnya. Siswa dan guru mengakui bahwa menyimak menjadi momok bagi siswa dalam belajar. "Ini kendala khas yang terjadi menyeluruh, tidak hanya di sekolah ini. Sebab ada tiga hal yang dilakukan bersamaan dalam seksi ini, yaitu mendengarkan narasi, membaca soal, dan menjawab soal. Kesiapan perangkat dan konsentrasi adalah dua hal yang perlu diperhatikan terlepas dari pemahaman dengaran," jelas Lentera. Ia memberi tips dengan meminta siswa membiasakan mengambil poin informasi setiap mendengarkan dan mencatatnya. Hal ini membuat siswa lebih mudah berkonsentrasi dan mengingat.

Sebagai penutup, Desi Rachmawati menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti di sini. Hasil UKBI diharapkan betul-betul dapat dimanfaatkan untuk menentukan perlakuan belajar bahasa dan literasi siswa sehingga tercipta pembelajaran terdiferensiasi sesuai kebutuhan siswa. Pembelajaran model ini diharapkan dapat memunculkan bibit unggul dan pemerataan kemampuan belajar serta berdampak pada hasil Asesmen Nasional SMAN 1 Sekotong.