Upaya Melestarikan Bahasa Sasak di Tengah Kemajemukan Kota Mataram

Mataram, 26 Juli 2024—Kota Mataram terkenal sebagai daerah majemuk. Kota ini menjadi tujuan perantau dari seluruh wilayah di Nusa Tenggara Barat. Banyak juga penduduk yang berasal dari Pulau Bali dan Pulau Jawa. Namun, keberagaman tersebut tidak menyurutkan anak-anak belajar bahasa Sasak, seperti anak-anak yang bersekolah di SDN 5 Mataram.

Tim Pemantauan Revitalisasi Bahasa Daerah berkesempatan mengunjungi MI Nurul Quran, SDN 5 Mataram, dan Dinas Pendidikan Kota Mataram. Para siswa tampak aktif dan bersemangat mengikuti kegiatan. Bahkan, siswa MI Nurul Quran yang menjadi peserta kompak mengenakan pakaian adat Sasak.

Kasman selaku Koordinator Pemodernan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra mengajak siswa MI Nurul Quran untuk serius mempelajari bahasa Sasak. “Jangan kalah sama mereka yang bersekolah di SD. Siswa MI juga harus berprestasi dalam bahasa daerah. Tahun lalu, ada satu siswa MI dari Kota Mataram yang memenangkan lomba pidato di ajang Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi,” ungkapnya saat memberikan semangat.

Semangat mempelajari bahasa daerah juga terlihat di SDN 5 Mataram. Keberagaman suku tidak menyurutkan semangat mereka mempelajari bahasa Sasak. Meskipun banyak yang bukan bersuku Sasak, siswa SDN 5 Mataram mengaku senang belajar bahasa Sasak. Hal tersebut dibuktikan dengan kelancaran mereka dalam berbicara bahasa Sasak dan mengenal dongeng-dongeng Sasak yang menjadi sumber cerita bewaran atau mendongeng.

Hal tersebut tentunya membuat Tim Pemantauan sumringah. Pasalnya, belum ada kurikulum muatan lokal bahasa Sasak di Kota Mataram. Hasil pemantauan ini diharapkan dapat memengaruhi dan mempercepat Pemerintah Kota Mataram untuk mengeluarkan kebijakan pembelajaran bahasa Daerah melalui Dinas Pendidikan.