Penghargaan Sastra Lokal: Kantor Bahasa Provinsi NTB Adakan Bedah Buku di Lombok Utara

Lombok Utara, 28 Juli 2024—Kabupaten Lombok Utara memiliki potensi sastra yang menjanjikan. Selain adat dan tradisi yang masih dijunjung kuat, Kabupaten Lombok Utara juga telah melahirkan banyak penulis bagus, seperti Imam Safwan, Yusran Hadi, Arianto Adipurwanto, Mazhar, dan Galih Mulyadi. Karya yang dihasilkan oleh penulis Lombok Utara beragam, baik itu cerpen, puisi, novel, dan naskah drama.

Melihat potensi tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Kebahasaan dan Kesastraan di Lombok Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk mengapresiasi para penulis dan mengajak masyarakat untuk menikmati, mengapresiasi, dan mengajak masyarakat Lombok Utara untuk berkarya.

Dua buku yang dibedah adalah _Iblis Tanah Suci_ karya Arianto Adipurwanto dan _Kembali Melaut_ karya Imam Safwan. Kumpulan cerpen _Iblis Tanah Suci_ dibedah oleh Galih Mulyadi, sedangkan kumpulan puisi _Kembali Melaut_ dibedah oleh Mazhar, M.Pd. Acara ini dipandu juga oleh seorang penulis, yaitu Yusran Hadi.

Acara ini melibatkan 60 peserta yang terdiri atas siswa, guru, pegiat sastra, dan pegiat teater. Pesertanya berasal dari SMAN 1 Tanjung, SMAN 1 Pemenang, Komunitas Jagat Aksara, Mahasiswa Universitas Hamzanwadi, dan Komunitas Bale Gelar. Mayoritas peserta memang anak muda untuk mengenalkan sastra sedini mungkin.

“Dengan membedah buku, pembaca dapat menghargai kerumitan dan keindahan karya sastra. Bedah buku memungkinkan terjadinya diskusi dan pertukaran ide. Hal tersebut dapat memperkaya pemahaman dan perspektif pembaca tentang buku yang dibedah. Kekayan diketahui karya sastra itulah yang sangat menarik dan harus anak muda,” ungkap Puji Retno, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, dalam Berbagainya. Ia membuka kegiatan dengan memukul alat khas Lombok Utara sekaligus, kull kull.

Sesi pertama didahului diskusi atas antologi cerpen Iblis Tanah Suci. Galih Mulyadi menyampaikan esainya yang berjudul "Magis-Magis dalam Iblis Tanah Suci" secara singkat. “Terdapat kemiskinan struktural dan kultural dalam cerita-cerita Ari. Kemiskinan ini juga diikuti unsur-unsur yang kuat yang dapat ditemui dalam tokoh, latar, dan alur cerita,” ungkapnya. Ia melanjutkan detail-detail apa saja yang menarik dalam _Iblis Tanah Suci_ yang ia apresiasi sebagai hal magis.

Selanjutnya, sesi kedua membahas kumpulan puisi _Kembali Melaut_ karya Imam Safwan. Mazhar melihat sejarah Lombok diulas kuat dalam puisi-puisi di _Kembali Melaut,_. Ada sejarah yang bisa dipelajari dan dirunut melalui puisi-puisi tersebut. "Puisi-puisi Imam Safwan menceritakan kita filsafat kehidupan masyarakat Lombok Utara dalam puisi-puisi yang bertema tradisi," tulisnya dalam esainya. Ia juga mengatakan bahwa rima dalam dan rima luar banyak ditemukan dalam puisi Imam hingga menjadi kekhasan dalam puisinya. Bagi Mazhar, bentuk puisi Imam yang bebas ini juga dapat ditemui dalam "Senja di Pelabuhan Kecil" karya Chairil Anwar.

Masing-masing ulasan pembedah ditanggapi langsung oleh penulis. Imam Safwan mengakui bahwa dalam penulisan puisi, termasuk dalam _Kembali Melaut_, ia banyak dipengaruhi oleh puisi-puisi Chairil Anwar yang bebas. Arianto juga mengakui ia berusaha menyampaikan kemiskinan dan tradisi yang ada di sekitarnya, secara spesifik di Desa Lelenggo. Menurut Ari, hal-hal yang biasa saja sebetulnya baru bagi masyarakat di luar Lombok Utara sehingga jadi hal menarik yang bisa dibahas lebih lanjut.

Selain diskusi, kegiatan juga ditaburi penampilan-penampilan menarik dari putra-putri daerah Kabupaten Lombok Utara. Bintang Elyusra dari SMAN 1 Tanjung dan Ni Kadek Osi, mahasiswa FKIP Universitas Mataram membawakan puisi-puisi dalam _Kembali Melaut_. Ici dan Fahri, anggota Sanggar Anak Gunung berkesempatan membacakan penggalan cerita pendek "Iblis Tanah Suci". Di akhir acara, Pondok Seni dan Diskusi (Pondasi), membawakan lagu-lagu untuk menutup perayaan buku hari ini.