Pemantauan dan Evaluasi Pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah di Kabupaten Bima oleh Kantor Bahasa Provinsi NTB
Kabupaten Bima, 6 Agustus 2024--Kegiatan pemantauan dan evaluasi pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah di Pulau Sumbawa berlanjut ke Kabupaten Bima. Ada empat sasaran perwakilan sekolah yang dikunjungi, yaitu SMPN 3 Woha, SDN 1 Tente, SDN 2 Tente, dan MTs Negeri 5 Bima. Kunjungan pertama diawali ke SMPN 3 Woha. Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Tim Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Perlindungan dan Pemodernan diterima oleh Kepala SMPN 3 Woha yang sekaligus merupakan narasumber Pelatihan Guru Master, yaitu Suaidin.
Pertemuan diawali dengan diskusi singkat sebelum kegiatan dimulai mengenai giat pengimbasan yang dilakukan oleh guru master SMPN 3 Woha, Nurfajri. Melalui penuturannya, Nurfajri mengungkapkan bahwa materi pembelajaran Revitalisasi Bahasa Daerah telah diberikan kepada siswa-siswa SMPN 3 Woha. Dukungan tidak lepas dari peran Kepala SMPN 3 Woha yang juga memiliki kompetensi dalam pengembangan bahasa dan budaya Bima.
Sambutan pengantar disampaikan oleh Kepala SMPN 3 Woha. Ia menjelaskan bahwa kegiatan pemantauan dan evaluasi pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah untuk memantau dan mengecek apakah ada giat-giat pembelajaran Revitalisasi Bahasa Daerah di SMPN 3 Woha. Ia berpesan agar guru dan siswa memberikan informasi mengenai pengimbasan ini. Hal ini sebagai bahan evaluasi bersama.
"Guru master telah melakukan pengimbasan, baik kepada sesama guru, teman sejawat maupun siswa. Pengimbasan juga dilakukan melalui komunitas belajar yang diampu oleh guru master dan guru penggerak yang ada di sekolah. Kami telah melakukan pementasan drama berbahasa Mbojo sebagai bagian dari partisipasi kami. Guru master akan menyusun buku antologi puisi bersama dengan guru yang telah terimbaskan. Bahkan, siswa kami yang bernama Sofia Auliatul Jannah telah menyusun buku berbahasa daerah yang berjudul Cara Cepat Menulis Aksara Bima sesuai dengan jenjang usia. Kolaborasi yang kami lakukan dengan berbagai siswa dan kepala sekolah menambah nilai kesuksesan pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah," jelas Suaidin menceritakan giat keberhasilan Pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah di SMPN 3 Woha.
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Puji Retno Hardiningtyas turut menjelaskan bahwa kegiatan pemantauan ini kami lakukan untuk mengukur sejauh mana guru master yang telah dilatih dalam Pelatihan Guru Master. Ukurannya adalah guru master telah mengimbaskan ke sekolah-sekolah, guru, dan siswa tentang pelestarian bahasa daerah.
"Kami memerlukan banyak hal, terutama data yang terimbaskan mulai dari jumlah guru, jumlah siswa, jumlah sekolah, dan capaian prestasi siswa dalam mendapatkan atau mempertahankan bahasa Mbojo. Prestasi siswa Sofia patut dicontoh. Ini menjadi pemantik bagi siswa dan sekolah lainnya untuk turut serta berprestasi. Bapak dan Ibu harus tetap mendorong siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Mbojo, meskipun kita tahu bahwa tren saat ini penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing lebih diutamakan. Adik-adik harus tetap melihat dan menggunakan jati diri bahasa Mbojo dan tentunya perlu dilestarikan. Kami berharap semua elemen masyarakat berperan, terutama pemerintah daerah sehingga proses pengimbasan dapat berjalan dengan baik melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pemerintah daerah perlu bergandengan tangan sebagai wujud pemerintah daerah lah yang memiliki konsep pemertahanan bahasa daerah. Memang kami akui belum semua dinas aktif melakukan giat pengimbasan. Saya yakin jika kolaborasi ditingkatkan, pengajaran muatan lokal akan bersifat dinamis dan berkembang terus menerus," papar Puji Retno sekaligus menekankan harapan kolaborasi dan dukungan dari pemerintah daerah.
Kunjungan kedua dilanjutkan ke SDN 2 Tente. Tim disambut oleh Kepala SDN 2 Tente, Endang Rufaidah, guru master, dan pengawas yang hadir. Kegiatan pemantauan melibatkan 20 siswa dalam pengisian kuesioner pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah oleh guru master.
Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Woha, Mulyadi menyampaikan bahwa bahasa Mbojo mempunyai kekhasan. Ia berharap ada pandangan dan kesan yang baik dalam kegiatan evaluasi ini. Jika ada kekurangan, SDN 2 Tente menyatakan kesiapan untuk melakukan perbaikan ke depannya.
Puji Retno Hardiningtyas menguatkan kembali pengenalan tentang organisasi, tata kelola, tugas, dan fungsi Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat di Kabupaten Bima merupakan implementasi program prioritas Revitalisasi Bahasa Daerah. Ia menambahkan bahwa penguatan pelaksanaan kegiatan tersebut melibatkan 251 guru master yang terdiri atas guru SD dan SMP, KKG, MGPP, Kepala Sekolah, dan Kepala Dinas Pendidikan 10 kabupaten/kota.
"Hal ini sebagai pemantik peraturan daerah oleh pemerintah daerah. Pelestarian bahasa daerah menjadi tanggung jawab bersama. Akan tetapi, amanat undang-undang menyebutkan bahwa tugas pelestarian bahasa daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Pemerintah pusat, dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa memiliki tugas mengawal dan mendorong penguatan bahasa daerah," terangnya.
Selanjutnya, kunjungan pemantauan dan evaluasi dilakukan di SDN 1 Tente. Guru master yang mengikuti kegiatan adalah Ayu Anggriani. Pada kunjungan ini, ia mempraktikkan materi pengimbasan terkait membaca puisi dalam bahasa Mbojo. Kepala SDN 1 Tente, Mukmina juga menerangkan bahwa giat pengimbasan telah diupayakan oleh pihak sekolah. Ia mengapresiasi kegiatan bahasa daerah karena dampak penyelematan bahasa daerah sangatlah penting di tengah-tengah gempuran globalisasi.
Kunjungan berakhir di MTs Negeri 5 Bima. Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali menekankan pentingnya pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah oleh guru master. Nur Fitriani selaku Kepala MTs Negeri 5 Bima menguatkan penjelasan bahwa guru master yang diikuti oleh Hikmah Junaidin telah aktif melakukan giat pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah ke guru dan siswa.
"Target kita adalah pemerintah daerah mengeluarkan kurikulum muatan lokal. Paling tidak ada pembelajaran bahasa daerah yang diberikan ke siswa. Kami siap bekerja sama ketika sekolah mampu melahirkan tulisan-tulisan berbahasa daerah. Ini tentu dapat menaikkan prestasi sekolah. Harapan besar saya guru master di sini mampu membuat laporan data jumlah pengimbasan sehingga keberhasilan pengimbasan bisa diukur," tandasnya menutup kegiatan pemantauan dan evaluasi di Kabupaten Bima hari ini.