Kantor Bahasa Provinsi NTB Gelar Diseminasi dan Penelaahan Cerita Anak Terjemahan Tahun 2024
Mataram, 26 Agustus 2024--Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan Diseminasi dan Penelahan Cerita Anak Terjemahan. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan penelaahan, reviu, dan penyutingan cerita anak terjemahan hasil Bimbingan Teknis Penulisan Cerita Anak dan Sayembara Penulisan Cerita Anak Berbahasa Daerah Sasak, Samawa, dan Mbojo-Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh 80 peserta dan difasilitasi oleh 5 narasumber. Peserta terdiri atas penulis, penerjemah, ilustrator, editor penerjemah, dan penyunting hasil sayembara cerita anak. Sebagai narasumber, hadir Kepala Kantor Bahasa, penelaah buku cerita anak dari masing-masing bahasa daerah, dan ilustrator. Kelima narasumber secara berurutan memberi materi Kebijakan Penerjemahan Cerita Anak Berbahasa Daerah di Lingkungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Penelaahan Buku Cerita Anak Berbahasa Daerah Sasak, Samawa, dan Mbojo, serta Penelaahan Ilustrasi Berbahasa Daerah.
Puji Retno Hardiningtyas, selaku Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menyampaikan berbagai hal saat membuka kegiatan. "Salah satu hal yang penting dilakukan hari ini adalah penyamaan persepsi. Perbaikan-perbaikan perlu ditindaklanjuti oleh penulis dan penerjemah," tuturnya mengaskan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini. Puji Retno juga berkesempatan menyampaikan materi terkait Kebijakan Penerjemahan Cerita Anak Berbahasa Daerah di Lingkungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Reviu Cerita Anak Berbahasa Daerah (Sasak, Samawa, dan Mbojo). Ia menjelaskan alur seleksi buku cerita anak, perjenjangan buku, dan kode etik dalam penulisan buku. Kebijakan terkait penulisan buku yang ditetapkan oleh Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa.
Penelaahan Buku Cerita Anak Berbahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo masing-masing disampaikan oleh Lalu Abdul Fatah, Kasman, dan M. Aris Akbar. Lalu Abdul Fatah menjelaskan betapa banyaknya peserta yang tidak memerhatikan perjenjangan buku. Masih banyak buku yang salah sasaran. Akibatnya bisa fatal karena buku bisa jadi tidak sesuai dengan pembacanya. Fatah juga melakukan penelaahan atas narasi dalam paket buku yang seharusnya tidak sama dengan sinopsis.
Kasman menjelaskan bagaimana ejaan, morfologi, dan pemilihan diksi dalam bahasa Samawa. Ia memaparkan pelambangan fonem dalam bahasa Samawa, kesalahan pembentukan kata, dan kesulitan penulis menemukan diksi yang tepat karena keterbatasan pemahaman bahasa Samawa. “Masih banyak sekali digunakan kosakata bahasa Indonesia. Saya rasa ini jadi hal yang wajar karena pemahaman bahasa Samawa masih terbatas, tetapi sebetulnya kita bisa menemukan sinonim kata dalam bahasa Samawa dengan makna terdekat,” tuturnya.
Untuk cerita berbahasa Mbojo, penelaahan dilakukan oleh M. Aris Akbar selaku Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram. Aris Akbar membahas ekuivalensi dalam struktur bahasa sumber dan bahasa target. “Meskipun penerjemahan diserahkan sepenuhnya kepada penerjemah, tetapi konteks dan koteks tetap harus dijaga. Jangan sampai terlalu jauh,” jelas Aris. Ia juga menyampaikan bahwa dari lima naskah yang ditelaah, kesalahannya cenderung seragam. Hal yang paling sering terjadi adalah ada lubang dalam cerita yang sulit dipahami anak-anak. Inilah mengapa tantangan terberat penulis cerita anak adalah memosisikan diri sebagai anak-anak dengan pajanan kosakata yang lebih minimal.
Setelah setiap narasumber menyampaikan materi, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi perwakilan penyunting dari pegawai Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Toni Samsul Hidayat, Kasman, dan Hartanto menyampaikan temuannya dalam penelaahan buku cerita berbahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo. Buku tersebut ditelaah satu per satu dengan membandingkan buku bahasa daerah dengan bahasa Indonesia.
Diseminasi ini menghasilkan keselerasan pemahaman seluruh pihak yang menyusun buku cerita anak. Sebagai tindak lanjut, draf buku final akan dicetak sebagai referensi bahan bacaan berkualitas.