Penutupan Kemah Sastra, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB Beri Pesan untuk Tetap Berkarya
Mataram, 5 November 2024--Kegiatan Kemah Sastra: Pelatihan Penulisan Cerita Pendek Berbahasa Daerah (Sasak, Samawa, dan Mbojo) Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2024 merupakan salah satu upaya penguatan sastra melalui peningkatan kompetensi bagi siswa dan guru pendamping. Memasuki hari terakhir, kegiatan ini berfokus pada pendampingan hasil cerita pendek karya siswa dan guru oleh ketiga narasumber, yaitu Arianto Adipurwanto dan Imam Safwan (bahasa Sasak), Alliurridha (bahasa Samawa), dan Baharuddin atau yang biasa dikenal dengan La Ndoro Conary (bahasa Mbojo). Tidak hanya itu, kegiatan ini juga sebagai penguatan pemahaman bagi siswa dan guru untuk lebih memperkaya keterampilan menulis cerita pendek.
Hal tersebut sesuai dengan arahan Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Puji Retno Hardiningtyas. Dalam sambutan penutupan kegiatan, ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar untuk mendorong siswa dan guru menghasilkan karya cerita pendek saja. Akan tetapi, kegiatan ini sebagai bentuk pembinaan yang mengasah pemahaman siswa dan guru akan penting dan berharganya suatu karya sastra, baik berupa cerita pendek, puisi, novel, dan jenis karya lainnya. "Kehadiran Adik-Adik dan guru pendamping tentunya mempunyai makna bagi kami. Kami sebagai lembaga bahasa dan sastra ingin terus berperan menyiapkan talenta-talenta muda dalam bidang sastra. Kami membutuhkan peran guru pendamping untuk terus mendorong Adik-Adik kita mengenal, belajar, mencintai, dan menghasilkan tulisan karya sastra," tandas Puji Retno saat menutup kegiatan di Hotel Santika Mataram (5/11).
Kegiatan dikemas dalam bentuk sesi pemberian materi oleh para narasumber. Pada hari kedua dan ketiga kegiatan, yaitu hari Minggu--Senin, 4--5 November 2024, pembelajaran dibagi ke dalam tiga kelas, yaitu kelas Sasak, Samawa, dan Mbojo. Setiap narasumber mendampingi proses kreatif cerita pendek sesuai dengan kategori bahasa. Pembelajaran selama proses kreativitas berlangsung tidak hanya terpusat di ruang kelas, tetapi juga di luar area kelas. Tujuannya, agar setiap siswa dan guru dapat mencari dan menemukan ide-ide menarik untuk dikembangkan sebagai sebuah sajian cerita pendek. Proses kreatif juga didorong untuk mengedepankan pemahaman tentang karya sastra sesuai dengan jenjang usia peserta.
Seperti halnya pesan Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, ia berharap bahwa kegiatan ini bukan hanya dianggap kegiatan rutin, tetapi kegiatan ini adalah bentuk motivasi dan aksi nyata pemerintah untuk memberikan ruang kreativitas bagi siswa dan guru. "Saya ingin Adik-Adik dan guru pendamping untuk terus belajar menghasilkan berbagai karya. Jadi, bukan hanya ketika kegiatan ini saja, tetapi juga setelah kegiatan ini selesai, Adik-Adik harus tetap belajar menulis cerita, ya. Nanti, Bapak dan Ibu guru siap mendampingi Adik-Adik," ucap Puji Retno melanjutkan sambutan penutupan kegiatan.
Harapan yang sama juga diungkapkan oleh narasumber. Pada kesempatan terpisah, di sela-sela proses pembelajaran berlangsung, Arianto Adipurwanto, narasumber kegiatan, menuturkan bahwa para peserta, terutama siswa, memiliki banyak ide bagus dan menarik. Bahkan, ada beberapa ide tulisan yang tidak terpikirkan oleh narasumber. Hal itu merupakan ide orisinal yang lahir dari alam pikiran peserta siswa. "Ketika proses pengembangan ide berlangsung, saya sendiri terkejut dan tidak menyangka bahwa ide-ide tulisan yang dilontarkan oleh adik-adik sangat kreatif. Apalagi jika melihat jenjang usia mereka. Sebagai narasumber, kami perlu menguatkan ide-ide menarik tersebut agar dapat menjadi karya cerpen yang bagus. Untuk itu, pada saat proses pembelajaran, kami lebih tekankan pengembangan alur, pemilihan diksi, dan realitas tulisan sehingga dapat menghasilkan cerita pendek yang segar," jelas Arianto.
Kegiatan ini menghasilkan sedikitnya 30 cerita pendek karya siswa dan 30 cerita pendek karya guru. Para guru pendamping juga didorong untuk menulis cerita pendek. Hasil karya siswa dan guru akan diterbitkan dalam bentuk antologi cerita pendek kategori siswa dan kategori guru pendamping. Buku antologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu buku bahan bacaan literasi yang dapat didistribusikan ke berbagai sekolah.