Balai Bahasa Provinsi NTB Menghadiri Puncak Acara Hari Kesiapsiagaan Nasional Tahun 2025
Mataram, 26 April 2025—Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadiri Puncak Acara Kesiapsiagaan Bencana Nasional di Gedung Graha Bhakti Praja, Kantor Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam kegiatan ini diwakili oleh Kasman (Widyabasa Ahli Muda).
Kegiatan ini dilakukan secara hibrida, yakni luring dan daring. Kegiatan luring diikuti oleh seluruh OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, sedangkan pertemuan daring diikuti oleh perwakilan beberapa provinsi di Indonesia bagian Barat, Tengah, dan Timur.
Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih satu juta masyarakat Indonesia, baik yang hadir secara luring maupun daring. Selain itu, acara juga dihadiri oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (H. Lalu Muhammad Iqbal), Kepala BNPP (Letjen TNI Suharyanto), Ketua Komisi XIII DPR RI, Perwakilan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Menko PMK yang diwakili oleh Deputi Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang diwakili oleh Direktur Pendidikan Khusus (Saryadi), dan Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut baik kegiatan ini karena pada tahun 2025, Provinsi NTB menjadi tuan rumah sebuah perhelatan yang luar biasa. Dalam sambutannya, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat menekankan bahwa semua potensi bencana yang ada di Indonesia, seperti gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, dan lain-lain, memiliki potensi terjadi di Provinsi NTB. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada seluruh masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat agar tetap memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan bencana dan mitigasi bencana.
Pada kesempatan berbeda, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah juga mengungkapkan bahwa gempa bumi di Lombok pada 2018 mengakibatkan kerusakan pada 1.225 satuan pendidikan, berdampak pada lebih dari 300.000 siswa dan 530 guru. Selain itu, kerugian material mencapai lebih dari 400 miliar rupiah, belum termasuk korban jiwa, termasuk siswa dan guru. Pemetaan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan BNPB menunjukkan bahwa banyak satuan pendidikan Indonesia berada di zona rawan bencana. Secara kuantitatif, lebih dari 400.000 sekolah berada di wilayah rawan gempa bumi, 300.000 sekolah rawan bencana banjir, 49.000 sekolah rawan bencana tanah longsor, 8.000 sekolah berada di wilayah rawan musim dingin, 17.000 rawan banjir bandang, 8.000 sekolah rawan letusan gunung berapi, dan 50.000 berada di wilayah rawan bencana erupsi.
Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan penyerahan lancana rekor MURI kepada Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat oleh perwakilan Direktur Operasional MURI.