Esai Membaca Kembali Puisi-Puisi Chairil Anwar
Nuansa kental nan muram, kepadatan yang dilipat dan dipepat, segala sesuatu yang seperti
terdesak dan tersingkir, berteriak lantang penuh nada seruan, hentakan, dan pertanyaan.
Begitulah nuansa yang mula-mula terpancar ketika membaca kembali puisi-puisi Chairil
Anwar, khususnya yang terangkum dalam buku puisinya yang berjudul “Kerikil Tajam dan
Yang Terampas dan Yang Putus” Penerbit Dian Rakyat (Cetakan ketigabelas, 1995). Nuans. [...]